Tipsone(Free Tips and Trick)

Paypal For Business

Free Premium Themes

Thursday, December 11, 2008

Syeikh Abdur Rauf; The Great Muslim Saint of Atjeh

Posted On 2:53 PM by History Of Aceh 2 comments

Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Bentara.

Ungkapan ini dikenal luas dalam masyarakat Aceh. Salah satu isinya menyiratkan tentang hukum yang berhulu pada Syiah Kuala, yakni Syeik Abdurrauf.


Aburrauf merupakan salah seorang ualama pemikir dan penulis ternama di Aceh. Ia menduduki jabatan sebagai Mufti, yakni penasehat agung beberapa raja secara pada masa kerjaan Aceh. 2 September 1961 lalu, namanya ditabalkan sebagai nama universitas negeri pertama di Aceh; Universitas Syiah Kuala.




Archer, salah seorang sejarawan barat dalam bukunya “Muhammadan Mysticim in Sumatra” menyebut Syeikh Abdurrauf sebagai The Great Muslim Saint of Atjeh, Now Better Known by the Name of Teuku Syiah Kuala.

Syeikh Abdur Rauf atau lebih dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala, lahir di Aceh Singkil pada tahun 1592 Masehi atau 1001 Hijriah. Ia pertama kali mendapat pendidikan agama dari ayahnya, Syeikh Ali Fansuri pendiri Dayah Suro Lipat Kajang di Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Setelah mendapat bekal agama yang cukup dari ayahnya, ia hijrah ke Pasai dan belajar di Dayah Blang Pira. Dari Pasai ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Arab untuk lebih memantapkan pengetahuannya.

Selama 20 tahun di Jazirah Arab, ia berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain, mulai dari Mekkah, Masinah, Yaman, Baitul Makdis, sampai ke Istambul (Turki). Ia belajar dari satu ulama ke ulama lain. Karena itu pula, ia saat kembali ke Aceh ia berhak memakai gelar Syeikh.

Setelah memantapkan pengetahuannya di Arab, ia kembali ke Aceh, dan sampai di Bandar Kerjaan Aceh pada tahun 1661 Masehi atau 1071 Hujriah. Saat itu suasana keagaam di Aceh telah kacau akibat pertentangan dua ulama besar, Syeikh Hamzah Fansuri yang membawa faham Wihdatul Wujud (Wujudiah) dengan Syeikh Nuruddin Ar Raniry yang berfaham Isnainiyatul Wujud.

Tak mau terlibat dalam pertentangan itu, saat tiba di Pelabuhan Aceh, Syeikh Abdur Rauf menyamar sebagai nelayan. Saat tiba di Aceh tak ada yang mengenalnya. Masyarakat di sekitar Pelabuhan dan pesisir kerjaan Aceh hanya mengenal Syeikh Abdur Rauf sebagai pawang pukat.

Namun, itu tidak berlangsung lama. Lambat laut masyarakat mengenal Syeikh Abdur Rauf yang asli sebagai ulama, ahli dakwah, tabib yang mahir, pendamai yang bijaksana, dan ahli tata negara. [iskandar norman]




In Memoriam: Abu Tanoh Abee sang Pewaris Naskah Aceh

Posted On 2:47 PM by History Of Aceh 5 comments



Almarhum Abu Tanoh Abee sempat mengomentari buku "Khazanah Naskah" karangan Henri-Chambert Loir & Oman Fathurahman yang juga mencakup pencatatan atas naskah-naskah koleksi Dayah Tanoh Abee (January 2005)

Tgk. Abu Dahlan al-Fairussy al-Baghdady (1943-2006):

Pewaris Koleksi Naskah Terbesar di Asia Tenggara


The world probably doesn't know him...

The fact, the world is deeply indebted to him....



Setelah sejak beberapa tahun belakangan berjuang keras melawan penyakit jantung yang dideritanya, akhirnya pada Sabtu, 18 Nopember 2006, pukul 13.45 WIB laki-laki berusia 63 tahun itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia adalah Tgk H Muhammad Dahlan Al-Fairusi Al-Bagdadi, pimpinan Dayah Tgk Chiek Tanoh Abee, Seulimuen, Aceh Besar.

Abu Tanoh Abee, demikian ia biasa disapa, memang bukan seorang tokoh nasional apalagi internasional terkemuka, meski ia tetap dianggap sebagai ulama besar di Tanah Rencong. Tapi bagi dunia pernaskahan khususnya, ia telah meninggalkan jasa yang luar biasa besar. Selama puluhan tahun ia menjadi semacam "kuncen" yang menjaga dan merawat tidak kurang dari 3.500 teks-teks kuno keagamaan dalam bentuk manuskrip. Jumlah naskah koleksi Dayah Tanoh Abee ini diduga sebagai yang terbesar di Asia Tenggara untuk kategori koleksi lembaga tradisional semacam Dayah ini.



Berkat jasa dan ketekunannya dalam mengumpulkan naskah-naskah tersebut, terutama yang diperoleh dari sanak familinya, kini dunia keilmuan masih bisa menyandarkan informasinya pada sumber-sumber lokal yang "genuine", khususnya yang berkaitan dengan sejarah perkembangan sosial intelektual keagamaan di Aceh sejak abad ke 16. Hingga kini, naskah-naskah tersebut tersimpan di Dayah Tanoh Abee yang diasuhnya, meski dengan standar perawatan yang belum maksimal.

Keberadaan naskah-naskah Tanoh Abee ini menjadi semakin terasa penting terutama setelah hancur dan musnahnya beberapa lembaga penyimpan dokumen bersejarah, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, akibat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu.

Tentang Tgk H Muhammad Dahlan Al-Fairusi Al-Bagdadi

Tgk H Muhammad Dahlan Al-Fairusi Al-Bagdadi merupakan ulama generasi kesembilan dari keturunan langsung Shaikh Fairus, yang mendirikan Dayah Tanoh Abee pada tahun 1627 M. Shaikh Fairus sendiri adalah seorang ulama Sunni yang memiliki asal-usul dari Baghdad, dan menjadi pengembang Islam di Aceh melalui tarekat Shattariyyah yang diajarkannya.

Dalam konteks perkembangan tarekat Shattariyyah di Aceh secara keseluruhan, alur silsilah yang dikembangkan oleh keturunan Shaikh Fairus ini tergolong "unik" karena tidak melalui Shaikh Abdurrauf Ali al-Jawi, yang dianggap sebagai khalifah utama tarekat Shattariyyah di Aceh khususnya, dan di dunia Melayu-Indonesia pada umumnya.

Dalam naskah Shattariyyah karangan Teungku Muhammad Ali, yang merupakan orang tua dari Abu Dahlan misalnya, disebutkan bahwa Abu Dahlan mengambil baiat tarekat Shattariyyah dari Shaikh Abdul Wahhab, dan kemudian secara berurutan mengambil baiat dari Shaikh Muhammad As‘ad Tahir, dari Shaikh Muhammad Said Tahir, dari Shaikh Mansur Badiri, dari Shaikh Mula Ibrahim al-Kurani, dari Shaikh Ahmad al-Qushashi, dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad Saw (Fakhriati 2006). Umumnya, sebelum sampai kepada Shaikh Mula Ibrahim al-Kurani dan Shaikh Ahmad al-Qushashi, nama Abdurrauf Ali al-Jawi selalu disebut dalam hampir semua silsilah tarekat Shattariyyah yang dijumpai di dunia Melayu-Indonesia (Fathurahman 1999).

Kini, Abu Tanoh Abee telah tiada, saya masih terngiang ungkapan yang diucapkannya pada Agustus 2005 lalu, bahwa ia sesungguhnya tidak yakin siapa yang akan menggantikannya jika suatu saat ia tutup usia. Ia hanya berpesan bahwa khazanah naskah yang telah lama dipeliharanya seyogyanya dijaga bersama.



Dulu ia memang cenderung protektiv terhadap naskah-naskah tersebut, sehingga tidak sembarang orang bisa mendapatkan informasi berkaitan naskah-naskah yang menjadi koleksi Dayahnya. Ini semata karena amanat dari kebanyakan sanak famili yang menghibahkan naskah-naskah tersebut, yang tidak menginginkan terlalu banyak pihak "mengganggu" pusakanya, selain juga karena pengalaman pahit adanya "tangan-tangan jahil" yang tidak bertanggung jawab ketika diberi kesempatan mengakses naskah-naskah tersebut.

Namun kini, khususnya setelah ia melihat kenyataan musnahnnya sebagian khazanah budaya Aceh di tempat lain akibat gempa dan tsunami, dan menyadari betapa rentannya kertas yang digunakan sebagai alas naskah itu, ia pun sadar bahwa berbagai upaya pemeliharaan naskah-naskah warisan leluhur tersebut harus dilakukan bersama-sama.

Abu Dahlan pun belakangan tidak segan-segan memperlihatkan koleksi naskahnya kepada mereka yang berkunjung ke Dayahnya, bahkan koleksi naskah yang tersimpan di kamar pribadinya sekalipun.

Beruntung saya pernah menjadi saksi, betapa judul-judul naskah yang disimpan Abu Dahlan merupakan kitab-kitab keagamaan yang sangat penting, khususnya dalam konteks tradisi dan wacana intelektual Islam di Aceh sejak abad ke 16.



Atas perubahan sikap yang diperlihatkan oleh Abu Dahlan ini pula, berbagai pihak pun mulai bersedia bekerja sama untuk melakukann pemeliharaan atas naskah-naskah tersebut.

Bahkan, saat ini, di atas tanah milik Abu Dahlan sendiri sedang dibangun perpustakaan manuskrip atas dukungan dana dari Cultural Emergency Response (CER) Prince Claus Fund, Belanda. Pembangunan itu sendiri merupakan salah satu upaya yang diprakarsai oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Aceh (lihat tulisan lain: "The Cultural Emergency Relief Action: The Rebuilding Manuscript Library in Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar" di bawah Label: Unpublished Conference Articles).



Akhirnya, selamat jalan Abu, semoga segala jerih payahmu menjadi amal baik di alam baka, dan dedikasimu dapat diwarisi oleh generasi berikutnya.





Peradaban Aceh Bak Oase Gurun Sahara

Posted On 2:38 PM by History Of Aceh 0 comments



Setiap bangsa di belahan bumi Allah ini memiliki peradaban atau budaya tersendiri, hanya tergantung seberapa tinggi nilai dan pengaruhnya. Orang Eropa menganggap peradabannya lebih tingggi dan maju, dan bangsa yang mendiami belahan bumi lainya berperadaban rendah. Sah saja bukan? Sangat tepat! Tergantung siapa penilainya. Begitu juga di nusantara. Namun, tetap saja budaya atau peradaban setiap bangsa sama tingginya seiring dengan perjalanan waktu, kondisi dan tempat komunitas tersebut berada.




[Teluk Sabang (Image Ist)] Budaya, secara harfiah merupakan buah pikiran, akal budi senantiasa berproses dan berinteraksi antara manusia dengan lingkungan serta ruang waktu, pada muaranya nanti akan menghasilkan kebiasaan, karya, karsa ideal yang menjangkau antar generasi dan dimensi. Setelah mengalami berbagai proses, hasil budaya itu dapat dinikmati, bermanfaat dan menjadi acuan standar harkat dan martabat suatu bangsa dalam membangun peradaban (civilization).




Masyarakat Aceh sampai kini sangat kuat dipengaruhi keagungan dan keemasan masa lampau itu. Zaman keemasan kesultanan masa lalu diwariskan turun-temurun dalam masyarakat Aceh, seperti bagaimana hebatnya Sultan Iskandar Muda mempertahankan adat, sehingga lahir hadih maja “mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat keuh tamita”.


Aceh bermata uang emas dan mahir dalam bidang perdagangan. Hal itu selalu menggelitik memori kolektif masyarakat Aceh tentang bagaimana mengembalikan kejayaan Aceh masa lampau. Aceh mempunyai heroisme tersendiri, penduduk Aceh di zaman kebesaran Kesultanan Samudera Pasai dengan penduduknya sekitar 40.000-50.000, yang sebagiannya pendatang dari India Selatan, seperti daerah Madras, Bombai, dan Sri Lanka, lalu berasimilasi dengan kebudayaan setempat. Karakter penduduk Aceh banyak kesamaan dengan India, mengakibatkan budaya Aceh tidak bisa disamakan dengan budaya Melayu Raya secara keseluruhan.


Adat Aceh sebagai aspek peradaban yang tidak identik dalam pemahaman budaya pada umumnya, karena segmen-segmen integritas bangunan adat juga bersumber dari nilai-nilai agama atau syariat yang menjiwai kreasi budayanya. Adat ngon agama lagee zat ngon sifeut.Roh Islami ini telah menjiwai dan menghidupkan budaya Aceh, sehingga melahirkan nilai-nilai filosofis, yang akhirnya menjadi patron landasan Budaya Ideal, dalam bentuk hadih Maja, “Adat Bak Poe Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala, Qanun Bak Putroe Phang, Reusan Bak Lakseumana”.


Po Teumeureuhom, lambang pemegang kekuasaan. Syiah Kuala, lambang hukum syari‘at atau agama dari ulama. Qanun, perundang-undangan yang benilai agama dan adat dari badan legeslasi. Reusam merupakan tatanan protokuler atau seremonial adat istiadat dari ahli-ahli atau pemangku adat. Pengembangan nilai-nilai tatanan ini mengacu kepada sumber asas yaitu, “hukum ngon Adat, lagee zat ngon Sifeut “Mengacu pada hadih maja ini maka budaya mengandung dua sumber nilai, yaitu, pertama, nilai adat istiadat, yaitu format seremonial, prilaku ritualitasi, keindahan, seni apresiasi dalam berbagai format upacara dan kreasi. Kedua, nilai normatif atau prilaku hukum adat, yaitu format materi aturan dan bentuk sanksi-sanksi terhadap pelanggar-pelanggaran. Karena istiqamah dan konsisten dengan nilai-nilai filosofis hadih maja ini, maka implimentasi budaya Aceh telah mengangkat harkat dan martabat bangsa Aceh untuk diperhitungkan oleh dunia internasional yang bertitik sentral pengembangan pada meunasah dan mesjid.


Budaya adat Aceh sarat nilai-nilai Islami, sehingga dalam pengembangan budaya adat berpegang kepada beberapa asas, antara lain, setia kepada aqidah Islami, bersifat universal atau tidak ada pertentangan antar agama, bangsa dan suku, kebersamaan, gotong royong, panut kepada pemimpin, cerdas membaca dan menulis.Pertumbuhan budaya adat Aceh, menghadapi tantangan rongrongan budaya global (globalisasi), maka wujud budaya idealis akan mudah adaptatis, akselirasasi dan berakumulasi secara kompetitif dan terprogram dan terstruktur.


E.B.Taylor dalam bukunya: Primitive Culture, Boston, 1871, menjelaskan Budaya adalah suatu peradaban yang mengandung berbagai nilai ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasan dan berbagai kemampuan rekayasa (keterampilan) seseorang dalam lingkungan masyarakat di mana dia berada. Abidin Hasyim bilang, kebudayaan Aceh telah menemukan identitasnya yang bernafas keislaman, bahkan telah mengakar. Sistem tatanan nilailah yang menjadi tolak ukur penyaringan dan pembendungan pengaruh baru dari luar, dan dengan sendirinya terjadi proses pemilahan mana yang bisa diterima dan mana tidak di kalangan masyarakat Aceh.Nilai-nilai Islami masyarakat dalam menghadapi pengaruh modernisasi bukanlah pertentangan antara keislaman tradisional dengan dunia nan modern, sebab Islam tidak berwatak tradisional, karena padanya terkandung pula unsur-unsur multi dimensi.


Soejito Sastrodiharjo, dalam tulisannya “Hukum Adat dan Realitas Penghidupan” yang selaras dengan pandangan Kluckhohn, yang mengatakan nilai itu merupakan “a conception of desirable”. Pada nilai ada beberapa tingkatan, yaitu nilai primer dan nilai sekunder. Nilai primer merupakan pegangan hidup bagi suatu masyarakat yang bersifat abstrak, misalnya, nilai kejujuran, keadilan, keluhuran budi dan lain-lain.Sedangkan nilai sekunder adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kegunaan, misalnya dasar-dasar menerima keluarga berencana atau untuk memecahkan persoalan kepadatan penduduk yang sedang dihadapi, namun pascakonflik dan tsunami nilai itu harus diabaikan masyarakat Aceh, karena penduduk lokal semakin berkuarang populasinya.Nilai sekunder muncul sesudah penyaringan nilai primer. Misalnya saja kemajuan yang dicapai oleh Jepang sekarang ini disebabkan karena pemerintah Jepang berhasil mempertahankan nilai-nilai primernya, tetapi mengubah nilai-nilai sekundernya (M. Syamsuddin, Hukum Adat dan Modernisasi Hukum).


Menggali Kebudayaan AcehBanyak adat istiadat, budaya dan keterampilan masyarakat Aceh yang “tergilas” roda perkembangan zaman, sehingga diperlukan penelusuran kembali. Upaya tersebut sangat penting maknanya bagi keberlangsungan kehidupan budaya Aceh di masa mendatang. Adapun beberapa kebiasan masyarakan Aceh yang harus tetap ada dan lestari, di antaranya, upacara perkawinan, upacara kelahiran bayi yang di dalamnya mencakup cukur rambut, hakikah, turun tanah dan upacara peusijuk (tepung tawar).Saat ini para pemerhati sejarah dan Kebudayaan Aceh mulai gerah dan khawatir dengan semakin memudarnya perhatian masyarakat sendiri terhadap identitas adat dan budaya khas Aceh. Bahkan sebagian menganggap adat dan Bahasa Aceh itu primitif seperti tulisan yang diturunkan situs internet krueng.org.


Bertolak dari kenyataan itu, maka generasi muda sekarang harus memiliki tekad bulat berupaya membentuk watak cinta budaya guna melestarikan dan menghidupkan kembali adat istiadat Aceh yang pernah jaya di masa lampau dengan segala perangkatnya.Peran generasi muda sangat besar untuk menjajaki napak tilas berbagai adat-istiadat yang pernah berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh yang beraneka ragam (diferensiasi) seperti dapat disaksikan dalam berbagai tradisi yang semakin langka saat ini seperti, adapt-istiadat yang terdapat dalam upacara perkawinan, kelahiran bayi, peusijuk, khanduri moulod, khanduri blang, khanduri laot, nuzulul Qur’an, khanduri koh kayee (cah uteun) dan menempati rumah baru, dan lain-lain.Semua kebiasaan itu perlu diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat berkaitan pemberlakuan syariat Islam berdasarkan UU No.44/1999 dan UUPA tentang penyelenggaraan keistimewaan Aceh di bidang agama, pendidikan peranan ulama dalam pemerintah dan adat istiadat.


Banyak bentuk adat budaya yang relevan untuk dikembangkan, seperti ornamen atau kaligrafi, rumah adat, meunasah, kesenian dalail khairat, zikir berdhanji, perhiasan, emas perak, keramik dan ukiran-ukiran di berbagai monumen dan batu nisan.


Dalam bidang seni budaya, masyarakat Aceh juga terdapat banyak jenis tari-tarian yang disenangi penggemarnya baik di Indonesia, bahkan dunia internasional. Tarian yang populer di Aceh antara lain saman Gayo, seudati, rapa’i geleng, tob daboh, didong Gayo, surunei kalee, ranub lampuan, silat dan likok pulo. Jenis tari-tarian sangat populer dalam masyarakat, dan bahkan telah dipromosikan secara nasional dan internasional seperti Malaysia, Jepang, Belanda, Spanyol dan Amerika Serikat di masa pemerintahan Gubernur Ibrahim Hasan.Menduniakan Kembali Peradaban AcehBangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memelihara dan menumbuhkembangkan adat istiadat sesuai dengan tuntutan zaman. Begitu juga dengan Aceh, dalam tatatan masyarakat yang heterogen seperti ini, maka terdapat dua kawasan yang perlu dicanangkan pengembangan apresiasi adat, di mana para tokoh adat (leading) sektor dengan perangkatnya amat berperan dalam wilayah adat Gampong dan kawasan Mukim.


Wilayah adat Gampong, kesatuan masyarakat hukum yang merupakan organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah mukim yang menempati wilayah tertentu, dipimpin oleh Keuchik dan yang berhak menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. Keuchik adalah Kepala Badan Eksekutif Gampong dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Gampong (Qanun, No.5 Tahun 2003) Wilayah adat Mukim, kesatuan masyarakat hukum dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terdiri atas gabungan beberapa Gampong yang mempunyai batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, berkedudukan langsung di bawah Camat yang dipimpin oleh Imeum Mukim. Imeum Mukim adalah Kepala Pemerintahan Mukim (Qanun No.4 Tahun 2003)Dalam konteks budaya ideal, aktualisasi produk paket-paket budaya adat, dapat memasuki pasar global, dengan memperhatikan beberapa unsur, seperti, Berakhlak agamis, kuat aqidah dalam penegakan syiar dan syariat Islam. Han lon mate i luwa Islam, ka meunan peusan bak endatu. Nibak mate kaphee, leubeeh get kanjai. Nyang beek sagai cit tuka agama.


Iman ta bina bak khusyu‘ di hate.Berjiwa adatisme, Penampilan prilaku yang adatis dengan forma-forma adat dalam upacara-upacara kekhidmatan, bernilai ekonomi, harkat dan martabat. Tasouk bajee bek le ilat, leumah prut pusat leupah gura. Ureung inong miseue boh mamplam, lam on ta pandang mata meucaca. Bertata Etika, budaya adat yang transparan (bermasyarakat, beraturan, berencana, berorganisasi, bergerak dan rensponsif), di bawah manajemen Geuchik beserta perangkatnya. Phon-phon adat cit jeut keudroe, watee meusahoe sinan meu tata.


Maseng-maseng nanggroe na adat droe, ureung meubudoe (bakoe) nyang atoe cara. Bek keureuleng ngon kheim irot, bek meureubot peupap haba. Bek meututoe jampu carot, bek ngon meudhot sue meutaga.Bertata Estetika. implimentas kreasi, apersiasi dalam format dengan nilai-nilai seni keindahan, bersih anggun, menarik, penuh nilai-nilai martabat yang santun, kebanggaan dan berwibawa. Beungoh seupot beu tamano, peugleih asoe pat-pat nyang reunta. Takoh gukee bak gaki ngon jaroe, peugleih gigoe jeut-jeut kutika. Rumoh tangga beuna ta pakoe, istana droe keurajeun raja. Beu gleh ngon rumoh, bagan beuk kutoe, di leun meu-asoe ngon bungong jeumpa.Pengembangan nilai-nilai sejarah lainya juga bisa jadi berupa, Gedung memorial, monumen Daerah Modal, Monumen Perjuangan, Istimewa, Serambi Mekah, Syariat Islam, museum alat-alat teknologi pertanian tradisional, transportasi, museum perikanan, museum kereta api dan lainnya. Tempat-tempat Rekreasi, Membangun pantai-pantai wisata, restoran, taman rekreasi, salon-salon, yang fasilitas penampilannya bernuansa adat dan IslamiMembangun Panggung Festival, Menyediakan sarana festival seni yang bernafaskan Islam, menjadi media dakwah, dalail khairat, saman gayo, seudati, rapai, drama, tarian tradisional Aceh (klassik), tarian seni modern (Islami), pameran seni lukis, kaligrafi, makanan dan pakaian adat. Peranan pengusaha, secara komersial dan terprogram permanen.


Membangun taman-taman hiburan untuk penyaluran minat kreasi, hiburan anak-anak yang tetap dan permanen. Taman rekreasi sungai AcehMembangun market-market souvenir tradisional, memperbanyak kegiatan bisinis barang dan jasa melalui pasar-pasar souvenir, pakaian adat, kue-kue khas, barang-barang antik, perhiasan, keramik dan pernak-pernik lain-lain.


Budaya Aceh Harus Punya Hak PatenBudaya asli Aceh, baik itu kesenian maupun adat istiadat tradisional yang diwariskan para leluhur harus dipatenkan agar mempunyai kekuatan hukum untuk pengembangkan dan pelestariannya. Pemerintah harus mematenkan seluruh budaya Aceh agar tidak diklaim sebagai milik daerah atau Negara lain. Pemerintah dan seluruh komponen masyarakat Aceh yang peduli harus segera mencari solusi agar warisan nenek moyang ini dapat dikenal generasi di masa kini dan mendatang sebagai indentitas bangsa yang besar ini.


Proses regenerasi dan transpormasi taradisi ini merupakan upaya pengembangan dan juga dapat dijadikan wadah pembinaan terhadap peradaban Aceh yang kian luntur akibat pengaruh budaya global (globalisasi) yang dipancarkan melalui jaringan berbagai media massa.Munculnya pengaruh budaya asing itu berpotensi terjadi pergeseran nilai yang bersifat kontradiktif dengan adat-istiadat masyarakat setempat. dan hal ini dikhawatirkan berimbas terhadap hilangnya jati diri bangsa, kesenian, adat istiadat dan budaya yang bernafaskan Islam sehingga mewujudkan pembangunan mental manusia Aceh yang tidak sesuai dengan fitrahnya.


Di sisi lain, banyak karya seni dan budaya karya para sastrawan Aceh tempo doeloe kini “hijrah” ke luar negeri, terutama ke negara serumpun Melayu, terutama ke ke Malaysia dan Brunei Darussalam, Philipina, Thailand Selatan dan Singapura. Padahal, karya-karya sastrawan terkenal di masa lalu itu telah memberi andil besar dalam memperkaya seni dan budaya tanah 1001 rencong ini.Genersi sekarang seharusnya berupaya untuk mengembalikan karya-karya sastra Aceh yang tersebar dari luar negeri. Baik itu berupa naskah-naskah sastranya maupun semangat dan jiwa dari karya sastra tersebut, sehingga dapat dipelajari oleh generasi muda Aceh dimasa sekarang dan mendatang.Apalagi, dengan semangat Islami yang sudah lama terbangun, maka akan menjadikan Aceh sebagai wilayah yang “tamaddun” budaya Islam di abad modern ini. Seandainya generasi sekarang tak banyak yang peduli, maka sampailah Peradaban Aceh pada kehancuran abadi



Peradaban Aceh Bak Oase Gurun Sahara

Posted On 2:38 PM by History Of Aceh 0 comments

Setiap bangsa di belahan bumi Allah ini memiliki peradaban atau budaya tersendiri, hanya tergantung seberapa tinggi nilai dan pengaruhnya. Orang Eropa menganggap peradabannya lebih tingggi dan maju, dan bangsa yang mendiami belahan bumi lainya berperadaban rendah. Sah saja bukan? Sangat tepat! Tergantung siapa penilainya. Begitu juga di nusantara. Namun, tetap saja budaya atau peradaban setiap bangsa sama tingginya seiring dengan perjalanan waktu, kondisi dan tempat komunitas tersebut berada.


[Teluk Sabang (Image Ist)] Budaya, secara harfiah merupakan buah pikiran, akal budi senantiasa berproses dan berinteraksi antara manusia dengan lingkungan serta ruang waktu, pada muaranya nanti akan menghasilkan kebiasaan, karya, karsa ideal yang menjangkau antar generasi dan dimensi. Setelah mengalami berbagai proses, hasil budaya itu dapat dinikmati, bermanfaat dan menjadi acuan standar harkat dan martabat suatu bangsa dalam membangun peradaban (civilization).



Beer, Kisah Tawanan Jawa di Aceh

Posted On 2:35 PM by History Of Aceh 0 comments

Para pekerja paksa (Beer) dari Jawa yang bekerja untuk Belanda di Aceh, kadang bersikap licik dan culas untuk sedikit mengurangi beban kerjanya. Tapi kemudian mereka diadu domba dengan mengangkat seorang mandor dari kalangan beer itu sendiri untuk mengawasi dan menghukum mereka-mereka yang licik.


Hal ini kerap terjadi pada pekerja paksa rombongan transport yang membawa perbekalan dan barang kebutuhan (logistik) marsose ke suatu wilayah. Seperti yang terjadi pada rombongan transpor pimpinan Letnan Jenae yang dikenal sebagai komandan kecil, tuan si cabe rawit.


Jenae merupakan seorang letnan yang masih muda. Pada tahun 1905, dengan kekuatan dua pasukan infantri bersenjata 40 karaben dengan bayonet, mengawasi 400 orang pekerja paksa dari Kuala Simpang ke Penampaan, Blang Kejeren. Barisan pekerja paksa yang mengagkut barang-barang tersebut panjangnya melebihi satu kilometer dan diawasi oleh 40 tentara. Jeane berpendapat sepuluh pekerja paksa diawasi oleh seorang tentara bersenjata.




Para pekerja paksa itu mengangkut jenever (minuman keras-red) untuk para marsose di medan perang, berkaleng-kaleng minyak tanah untuk pasukan di bivak-bivak. Barang bawaan itu tentu sangat memberatkan para pekerja paksa. Dengan mendaki gunung dan menuruni lembah, mereka memikul beban berat itu. Di punggung mereka barang-barang tersebut diikatkan.


Namun para pekerja paksa yang licik dengan segala cara membuat agar muatan barang yang dibawanya itu berkurang sedikit demi sedikit. Kaleng-kaleng minyak dibuatnya menjadi bocor dengan cara menumbukkan benda keras dan tajam ke kaleng minyak itu, sehingga sedikit demi sedikit minyak itu tumpah.Begitu juga dengan minuman keras. Poci-poci jenever dibuat berkuarang isinya sedikit demi sedikit. Sementara tenda-tenda perkemahan yang mereka angkut, yang merupakan barang bawaan yang paling dibenci para beer karena besar dan berat, sering dihanyutkan saat menyeberangi sungai. Sehingga ketika sampai ke tujuan barang bawaan mereka tinggal setengahnya saja.


Tak mau hal itu terus teulang, Letnan Jenae kemudian membuat peraturan baru bagi para pekerja paksa penangkut logistik tersebut. Pekerja paksa yang dianggap paling brandal dan ditakuti diangkatnya sebagai mandor untuk mengawasi para pekerja paksa lainnya. Kepada para mandor itu diberi tanggungjawab menjaga agar barang bawaan tidak berkurang satu pun.Setelah berjalan beberapa hari, pasukan Jenae yang mengawasi 400 pekerja paksa itu kemudian tiba di Brawang Tingkeum, suatu daerah yang diankap angker waktu itu. Di sana mereka harus menyebrangi sungai Wih Ni Oreng. Dari seberang sungai, mereka ditembaki oleh para pejuang Aceh. Para pekerja paksa yang terjebak dalam sungai saling berpegangan tangan agar tidak hanyut. Sementara 40 tentara Belanda pimpinan Letnan Jenae yang mengawasi pekerja paksa tersebut membalas tembakan para pejuang Aceh yang berada di tebing sungai.


Sementara para pekerja paksa yang membawa barang yang berada paling belakang tidak mendapat pengamanan. Dari rumput alang-alang 20 orang Gayo keluar menyerang dan merampas barang bawaan para pekerja paksa itu. “Barulah letnan Jenae sadar akan kekliruannya. Semua anggota pasukan di depan berjalan terus, sedang yang jauh dibelakang sama sekali tidak mendapat perlindungan, yaitu barisan yang terdiri dari 400 orang beer tadi. Jenae sudah dapat membayangkan betapa marah dan kecewanya pasukan yang di Penampaan kelak, setibanya dia disana tidak membawa jenever, minyak kelapa dan minyak tanah tersebut,” tulis H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh” tentang peristiwa itu. Menulis tentang para beer, Zentgraaff sangat terkesan dengan Kimun, seorang Madura beka spekerja paksa di Aceh. Hal itu seperti diceritakan Asisten Residen Einthoven kepada Veltman ketika berada di Bogor. Kala itu Kimun yang mengaku bekas pekerja paksa di Aceh menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Gouverneur General (Gubernur Jendral-red) Van Heutsz.


Kimun mengaku dibawa ke Aceh pada tahun 1896 sebagai pekerja paksa dengan hukuman 20 tahun. Hukuman itu dipatkannya karena ia membunuh seorang Jawa yang menghina bapaknya. Setelah disidang dan divonis penjara 20 tahun, ia pun dibawa ke Aceh sebagai pekerja paksa untuk menjalani hukumannya itu.Kimun berasa di Aceh pada masa Teuku Umar, melakukan taktik menipu Belanda dengan menyerah pura-pura. Setelah Teuku Umar menyebrang dan memimpin kembali perlawnaan rakyat Aceh terehadap Belanda, Kimun menawarkan dirinya untuk menembus daerah kepungan pasukan Aceh untuk mengantar surat kepada pasukan Belanda di daerah lain.Tindakan itu diambil Kimun agar Belanda mengurangi masa hukumannya di Aceh dan dia berharap bisa segera dipulangkan ke Jawa. Namun Kimun yang menjadi kurir pengantar surat tersebut ditangkap oleh gerilyawan Teuku Umar. Ia mengalami luka parah, badannya yang penuh sabetan pedang dibuang ke sungai.


Dalam keadaan yang hampir tak bernyawa lagi itu, tubuh Kimun ditemukan Belanda terapung di pinggir sungai di daerah Lambaro, Aceh Besar. Belanda kemudian merawat dan mengobatinya. Meski ia gagal mengantar surat, namun ia kemudian dibebaskan dari hukuman. Ia diperbolehkan untuk kembali ke Jawa.Tapi Kimun menolaknya, karena merasa dendam terhadap orang Aceh yang menyiksanya dengan sabetan pedang dan membuang tubuhnya yang hampir mati ke sungai. Ia tetap tinggal di Aceh dan bekerja sebagai “jongos” pada Grasfland, seorang opsir Belanda.


Ketika Grasfland meninggal, Kimun pindah ke rumah opsir lainnya dan tetap bekerja sebagai “jongos” di Lhokseumawe. Pada suatu hari, ia membeli sebotol limun di Keude Cina, ketika ia hendak minum, seorang polisi datang hendak menangkapnya, karena mengira ia pekerja paksa yang lari dari tugas. Kimun kemudian memukul kepala polisi itu dengan botol limun tersebut. Atas perbuatannya itu Kimun kemudian dihukum sepuluh tahun. Ia kemudian dikirim ke Jambi sebagai pekerja paksa. Dari Jambi kemudian dia dibawa ke Menado. Dari sana ia kemudian dibawa ke Surabaya dan dibebaskan dari sisa hukumannya.Di Surabaya ia mendengar bahwa Gubernur Jenderal Belanda, Van Heutz berada di Bogor. Ia pun balik arah menuju Bogor dengan berjalan kaki untuk bertemu dengan van Heutzs. Ia mengenal overste kawakan Belanda itu ketika berada di Aceh dan masih berpangkat kolonel.


Ia menempuh perjalanan sejauh 800 kilometer tanpa uang se sen pun. Ketika sampai di Bogor, ia mencari Asisten Residen menyatakan keinginannya untuk bertemu Van Heutzs. Ia pun diminta untuk menghadap Velman, opsir Belanda yang pernah bertugas di Aceh yang dikalangan Belanda sendiri dikenal dengan sebutan Tuan Pedoman.Veltman pun menerimanya. Ia dipekerjakan sebagai jongos masak memasak dan kembali di bawa ke Aceh, karena bagi Veltman, Kimun merupakan beer kawakan yang mempunyai sifat aneh. Sulit baginya untuk membayangkan setiap bertemu orang-orang yang mipir orang Aceh di Jawa, Kimun akan menyerangnya dengan senjata tajam. Dalam benaknya seolah-olah ia masih berada di Aceh. Ia masih trauma dan tidak bisa melupakan apa yang telah dialaminya di Aceh.


Veltman pun membawanya kembali ke Aceh, yakni ke Tapak Tuan. Suatu ketika tatkala Veltman menerima tamu beberapa orang kepala Aceh untuk membicarakan suatu pembicaraan bertempat di hotel Kugemlan di Kutaraja, si Kimun pergi berdiri di belakang orang-orang Aceh itu sambil memegang sepotong besi sambil melihat dengan pandangan bertanya kepada tuannya, seolah-olah bertanya, ”Yang mana yang dipercaya,” ia seolah-olah ingin membunuh orang Aceh itu satu persatu. “orang-orang itu pencuri pencuri ulung, dan ini lebih jelek dari pada pembunuhan,” kata Kimun kepada Veltman.Dalam bekerja sebagai jongos di rumah-rimah opsir belanda, Kimun tidak mau menerima gaji tetap, dan karena itulah uangnya disimpankan oleh Veltman, dengan memotong barang seringgit yang sekali-kali diambil oleh orang itu. Kalau dia memiliki uang kontan, maka uang itu dibaginya kepada teman-teman lamanya sesama beer pada masa lampau.


Karena pembawaannya yang agresif itu, Kimun tidak lama berada di Tapak Tuan, karena Veltman tak ingin Kimun mengalami gangguan mental akibat traumanya dengan orang-orang Aceh. Ia kemudian diambil oleh Hein Meijer, seorang Belanda, kadet perang di Aceh. Namun disana pun ia membuat masalah sehingga Meijer menghukumnya.Kimun jadi mati kutu dan tanpa pikir panjang dari Tapak Tuan kemudian ia mertas pegunungan menuju Sigli. Tak jelas bagaimana nasibnya kemudian dalam perjalanan tersebut.[iskandar norman]



Si Babi Lanang, Dwangkess dan Ketting Beer

Posted On 2:30 PM by History Of Aceh 0 comments

Para pekerja paksa asal Jawa di Aceh sering dipanggil ketting beer, si Babi Lanang. Sering pula dijuluki dwankess, patriot terpaksa. Kisah pria Madura di Meureudu salah satunya.


Tak sedikit orang-orang hukuman dari Jawa itu mati karena dipaksa ikut berperang. Untuk menghadapi keganasan perang gerilya di Aceh, orang-orang hukuman itulah yang dijadikan tameng. ““Mereka mati bagai hewan yang tak ada gunanya lagi atau mati karena luka-luka, letih dan kelaparan,” tulis H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh”


Zentgraaff menulis salahs atu peristiwa berdasarkan cerita seorang letnan dua bernama Freiherr van Undzu Wglofftein. Selama perjalanan patroli dibawah pimpinan komandan van Huetsz menuju Tangse. Pada hari ketiga perjalanan itu, Mayor van Leonen, komandan kereta api, terpaksa meninggalkan selusin pekerja paksa yang sakit di dalam hutan. Pasukan Belanda yang sudah lemah dan kelaparan, tidak sanggup lagi menjaga para pekerja paksa itu.


“Tak seorang pun yang tahu bagaimana nasib para pekerja paksa itu kemudian, bagaimana dan dimana mereka menemukan ajalnya,” jelas Zentgraaff.




Selama perjalanan operasi itu, pasukan kereta api terpaksa tidur di dalam hutan belantara setiap malam. Tidak ada kesempatan untuk mendirikan pondok-pondok bivak, karena pasukan harus berjalan kaki terus-menerus sampai hari menjadi gelap benar, dan barulah setiap prajurit merebahkan diri ditempat mereka berhenti. Para pekerja paksa yang memikul barang-barang berat, benar-benar terperosok dalam tanah lumpur, dan tatkala perjalanan akan diteruskan keesokan harinya, sebelas orang diantar mereka tetap tergeletak ditanah. Badannya dingin dan kaku. “Ajal telah merenggut nyawa mereka pada malam harinya,” lanjut Zentgraaff.


Mayat-mayat serdadau suku Jawa yang tewas di dekat lembah itu, ditutup dengan ranting-ranting dan daun-daunan hijau. Sedangkan mayat pekerja paksa tinggal tergeletak begitu saja di tanah. “Tetapi baik mayat-mayat serdadu asal Jawa tadi maupun mayat-mayat pekerja paksa, kesemuanya menjadi makanan babi hutan serta binatang-binatang buas lainnya,” ugnkap Zentgraaff.


Tatkala pasukan itu pulang dari Tangse, maka kompi yang penghabisan yakni barisan yang paling belakang, membawa enam buah. Pasukan Belanda tersebut berpapasan dengan pejuang Aceh. Maka terjadilah perang mulai dari Beungah sampai ke Keumala Dalam, berlanjut hingga ke Seuriweue. Tidak jauh dari sana, dalam semak-semak di pinggir jalan ditemukan lima pekerja paksa yang karena keletihan tergeletak disana. Mereka mati. Setelah perang berhenti, mayat-mayat itu kemudian diangkut dengan tandu oleh para serdadu ke bivak Gle Gapui. Para pekerja paksa dibagian memasak, keadaannya lebih baik dibanding mereka yang harus mengengkut logistik tentara ke hutan. Selalu saja ada sisa makanan di dapur untuk mereka santap, meskipun hanya rimah. Sering pula ada potongan makanan yang tidak sampai ke meja, karena dicuri. Bagi yang ketahuan harus menerima hukuman cambuk.


“Kadang-kadang mereka juga mencuri barang dans enjata untuk dijual ke gerilyawan Aceh. Penipu-penipu yang tak dapat dipercaya ini terdapat pula dalam pasukan,” tulis Zentgraaff.


Untuk mendapat keringanan hukuman, para pekerja paksa diberikan tugas-tugas yang sangat berbahaya. Saat Belanda menerapkan taktik perbentengan terpusat untuk melawan pejuang Aceh, saban pagi para pekerja paksa itu menyusuri rel trem untuk memeriksa ganjalan-ganjalan rel dan memperbaiki sekrup yang longgar.Hal itu harus mereka lakukan karena pasukan Aceh sering meletakkan bahan peladak di rel trem, yang bila tersentuh roda tren akan meledak dan menyebabkan kematian di pihak Belanda. Bahan-bahan peledak itu didapatkan pejuang Aceh dari serdadu-serdadu Eropa bayaran Belanda yang menyebrang ke pejuang Aceh.


Untuk mebersihkan ranjau-ranjau dan bahan peledak di rel trem, setiap malam para beer harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering kali mereka juga harus mengantarkan surat-surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasi gerilyawan Aceh.Sebut saja seperti saat pos Belanda di Meureudu terkepung pada tahun 1899. Komandan Belanda sangat khawatir karena tidak mampu menghadang serbuan gerilyawan Aceh. Padahal dalam benteng itu terdapat 150 pasukan Belanda yang segar bugar.Komandan Belanda di Meureudu pun kemudian meminta kepada seorang pekerja paksa (beer) asal Madura untuk mengantarkan surat mohon bantuan tambahan pasukan dari pos Belanda di Panteraja. Beer tersebut harus berlari seorang diri menerobos semak belukar dan menyebrangi tiga sungai (krueng), mulai dari Krueng Beuracan, Krueng Tringgadeng dan Krueng Panteraja.


Dengan wajah letih dan badan penuh goresan duri. Esok pagi beer tersebut berhasil menyampaikan surat itu ke pos Penteraja. Dalam keadaan gawat seperti itu Belanda kemudian mengirim delapan brigade morsase dari Pidie menuju Meureudu.Para masrsose di Panteraja terkehut ketika mereka sedang mandi muncur beer pengantari surat itu dari dalam air. Ia segera bertanya dimana kapten pasukan Panteraja. Setelah dipertemukan, ia pun mengelurkan sebuah lipatan surat dari dalam ikatan kepalanya.


“Dari komandan Mardu (Meureudu-red) kepada tuan komandan Marsose,” kata beer tersebut sambil menyerahkan surat itu.Dalam surat itu komandan Marsose di Meureudu memberitahukan bahwa dia sudah tidak tidak mempunyai opsir-opsir lagi, dan serdadu-serdadu dalam pos tersebut sudah luntur semangatnya akibat digempur pasukan Aceh. Beer yang berhasil membawa surat itu kondisinya sangat memprihatinkan, karena keletihan setelah menyerahkan surat itu, ia jatuh pingsan. Ketika sadar kepadanya kemudian diberikan semangkuk coklat, roti dan sepotong daging tebal sebagai imbalan.Seorang pekerja paksa maklum, bahwa dengan berhasilnya melaksanakan tugas yang berani seperti itu, sudah dapat dipastikan kebebasan penuh.


“Namun beberapa banyak dari mereka itu yang tidak pernah dapat kembali dari menjalankan perintah seperti itu? Siapa yang dapat mengetahui bagaimana cara kematian mereka?” tulis Zentgraaff.


Apabila sebuah sungai atau Krueng sedang banjir, sedangkan pasukan yang telah berkumpul di situ harus menyebranginya maka biasanya pekerja paksalah yang diperintahkan untuk berenang keseberang, sehingga dengan demikian dapatlah direntangkan kabel rotan atau semacammnya agar pasukan dapat menyeberang.


Dan apabila pasukan Belanda mendapat serangan dari gerilyawan Aceh serta jatuh banyak korban, maka para pekerja beer lah yang diperintahkan untuk membawa berita kilat kepada sebuah datasemen pasukan Belanda yang terdekat untuk memperoleh bala bantuan. Mereka menempuh jalan-alan setapak di pegunungan, menempuh jalan sungai berbatu kerikil sambil memikul beban perbekalan yang berat, minyak amunisi, dan segala apa saja yang diperlukan oleh pasukan dalam perjalanan itu. Kalau terjadi pertempuran-pertemuran,merekalah yang menggotong serdadu-serdadau yang luka-luka, dan kadang –kadang mayat-mayat apabila sebuah pos atau bivak dapat dicapai sebelum mayat-mayat itu menjadi busuk.


Merekalah yang harus memasak minuman teh atau makanan, dan harus mencuci pakaian-pakaian para marsose dalam perjalanan dari dibivak-bivak, dan apabila mereka ikut dalam pasukan yang besar, maka cemeti sang mandor kurang lekas bekerja, lebih-lebih kalau suku mereka berlainan. Dalam pasukan yang besar seperti, jarang terdapat tempat dimana orang dapat mengadukan perlakuan yang sangat zalim terhadap mereka, tetapi justru mereka akan dipermak babak-belur sampai terkeripuk jatuh dan menemui ajalnya, karena kata ‘mati’ adalah kata yang amat lazim dalam peristiwa seperti itu.[iskandar norman]



Cut Ali Mualim Para Panglima

Posted On 2:23 PM by History Of Aceh 0 comments

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang.

Allah adalah pelindung saya.

Tiada tuhan melainkan Allah,

Malaikat-malaikat Jibril, Mikail, dan israfil

Berada pada tanga kanan dan tangan kiri saya

Dimuka, di belakang, di atas, dan di bawah saya.


Saya dikelilingi oleh kesaksian

Tiada tuhan selain Allah,

Saya pergi dengan kasih sayang Allah,

Yang menyebabkanku berhasil dalam alam ghaib

Tuhanku adalah Allah.


Itulah sepenggal kutipan doa Cut Ali, seorang pejuang Aceh yang tangguh, yang berperang melawan Belanda. Sebagai salah seorang panglima dari pejuan Aceh, ia memiliki kemampuan ghaib dengan doa-doanya kepada Allah. Doa-doa religius yang menyelamatkanya dari serangkaian pertempuran.Namun sebagai manusia biasa, Cut Ali juga harus menuai ajal.


Pada Mei 1872, pimpinan besar barisan perlawanan Aceh di pesisir barat itu syahid, setelah ditembak seorang marsose Belanda bernama Gosenson dalam sebuah pertempuran.Cut Ali merupakan spirit perjuangan yang tiada tara. Dalam tahun 1925, di pesisir Barat terjadi huru-hara. Huru-hara itu bermula dari daerah-daerah di bagian selatan, yang saat itu dikuasi Belanda. Namun dengan tak tik gerilya yang diterapkan Cut Ali, ia berhasil membuat ketegangan dipihak Belanda kala itu.




Ketegangan yang oleh penulis Belanda, H C Zentgraaf disebutkan hampir-hampir tak terpikulkan.Sementara dalam tahun 1924, perlawann-perlawanan itu juga terjadi di daerah selatan. Sehingga dalam setiap keude (pasar-red) orang menjadi sangat hati-hati berbicara soal perang. Sementara di malam hari, penduduk disibuki dengan membaca kitab-kitab suci, dan mengobarkan semangat jihat memerangi Belanda.


Tentang gelora perlawanan itu, Zentgraaff menulis. “Di daerah pesisir Barat, jiwa dan semangat berjuang lama yang menyala-nyala adalah yang paling lama bertahan, senantiasa terdapat ketegangan yang pada setiap saat meledak. Penduduknya, memang membungkukkan kepalanya setelah operasi-operasi besar yang lampau, namun dalam semangatnya mereka tidak banyak berubah atau sama sekali tidak berubah.”Patroli-patroli Belanda juga semakin kwalahan, karena secara dadakan sering diseragap kelompok-kelompok kecil pejuang Aceh yang mahir menggunakan senjata tajam.


“Dalam kemahiran mempergunakan senjata pun mereka tidaklah berkurang,dan di sini, senjata khas adalah kelewang alias”peudeueng” yang panjang,pedang Turki. Seseorang yangnberopleh hadiah dengan sabetan “sabet atas’(how bovenop) dengan pedang ini, akan tamatlah perhitungannya dengan dunia ini,” tulis Zentgraaff.Penduduk yang berada di daerah Utara dan pesisir timur, banyak juga yang memakai senapan dan senapang kuno (donder bus), dan hal itu disebabkan karena daerah itu keadaannya datar, sehingga memaksa pertempuran-pertempuran harus dilakukan dalam jarak jauh, setidak-tidaknya untuk membuat permulaannya. “Penggunaan senjata api itu bukan berarti bahwa tidak trampil dalam menggunakan lekewang, terutama orang-orang Pidie, mereka adalah jantan-jantan yang berani bertarung sampai mati dengan senjata-senjata tajamnya,” lanjut Zentgraaff.Di daerah pesisir Barat, dimana semuanya diliputi gunung dan hutan-hutan, haruslah cara bertempurnya berbeda.


Tanah yang kasatr dan begunung-gunung ini kebenyakan punya ciri-ciri penyergapan yang khas secara mendadak dari tempat-tempat tersembunyi terhadap pasukan-pasukan patroli Belanda. “Dan musuh melakukan ini dengan semangat fanatisme yang harus kita hormati,” puji Zentgraaff.sementara di daerah Seunagan, serbuan kelewang tradisional dinilai Zentgraaf lebih berbahaya. Di daerah itu, menurutnya, pejuang Aceh menyerbu dengan sepenuh diri. Bertarung demi kepentingan bersama, melawan Belanda.


Hal itulah yang membuat patroli Belanda sering mengalami kekalahan dan susah menaklukkan Aceh sepenuhnya.Zentgraaff juga menyebutkan, semangat jihat pejuang Aceh yang tingi itu pula yang menjadi momok bagi pasukan Belanda. Bahkan mental pasukan elit belanda, marsose jatuh karena keberanian-keberanian pejuang Aceh. Ia menulis. “Demkianlah, mereka adalah sangat berbahaya terutama bagi serdadu-serdadu kita yang muda-muda.


Apabila serombongan musuh yang seperti itu, mengenakan pakaian perangnya yang berwarna hitam, dengan peudeueng panjang yang diayunkan, sambil berteriak menghambur kepada pasukan kita, bagaikan iblis dalam wujud nyata, maka sungguh besar kemerosotan moril serdadu-serdadau kita yang muda-muda, sebagaimana yang kita alami sebagai kerugian kita.”Masih menurut Zentgraaff. Setiap kesalahan dan kelengahan yang dilakukan oleh komandan-komandan perang Belanda selalu bisa dimanfaatkan oleh pejuang Aceh, yang kemudian membuat jatuh korban di pihak Belanda.Di Bakongan, terdapat batu nisan kembar, dari atas ke bawah, dan dalam dua jejer, ditulis dengan nama-nama serdadu-serdadu yang tewas pada pasukan yang dipimpin oleh letnan Donner dalam tahun 1905. Pasukan patroli itu dibagi kedalam dua kelompok, berbaris menuju berbagai arah.


Pada malam yang sama, bertempat dikampung Rambong dan Sibabe, kedua pasukan itu dicegat dan hampir seluruhnya tewas bersama letnan Donner. Pasukan yangsatu lagi, bahkan gugur tiga belas serdadu, sementara semua karaben dapat dirampas olah pihak musuh.Pada serangan mendadak itu, yang terjadi dibagian daerah pesisir Barat tersebut, misalnya yang terjadi dengan pasukan patroli pimpinan Grunefeld, pada bulan Maret 1926, yang bergerak dari Singkil menuju Trumon, disebabkan oleh kurang waspada, merek diserang. Hampir seluruh pasukan belanda itu tewas.


Lima belas pucuk karaben pasukan belanda pun beralih tangan ke pejuang Aceh.Demikian pulalah yang dialami oleh brigade pimpinan kapten Paris, karena kesalahan sedikit saja dari komandannya, maka pejuang Aceh memanfaatkan kesempatan itu di Sape. “Kita masih ingat akan kejadian yang malang itu, sehingga kapten Paris beserta hampir semua prajuritnya tewas, dan berkat seorang marsose jawa bernama Kromodikoro, yang dalam keadaan luka parah mengambil alih pimpinan, sehingga sisa klecil dari pasukan itu dapat menyelamatkan diri sambil melepaskan tembakan-tembakan,” tulis Zentgraaff.Setiap kekeliruan pasukan belanda itu, harus ditebus dengan darah. Pada tahun 1962, Letnan Molenaarb tewas di sekolah Teureubangan.


”Ia merupakan suatu daftar nama-nama korban yang gugur yang amat panjang dan mengerikan bagi belanda. “Dan, melebihi segala serangan kelewang tersebut tadi yang mereka laksanakan dengan keberanian menentang maut yang tak ada taranya, maka satu gemburan terhadap pasukan Compion dalam bulan April 1904, merupakan serangan kelewang yang paling besar dalam sejarah Aceh.” Jelas Zentrgaaff.Untuk memburu gerilyawan Cut Ali, Belanda terus mengirim opsir-opsirnya ke Aceh, yakni panglima-panglima marsose kawakan ke daerah pesisir barat. Diantara opsir adalah Snell dan Gesenson. Snell kemudian berhasil mengendus tempat gerilyawan Cut Ali. Ia pun kemudian berangkan dengan kekuatan pasukan delapan brigade.Dalam penyergapan besar-besaran itu, pasukan Snell berhasil menewaskan salah seorang panglima bernama Teungku Maulud, serta merampas tujuh pucuk karaben dari pejuang Aceh.


Meskipun demikian, pertarungan masih jauh dari selesai, Cut Ali sudah sembuh kembali, dan rakyat tetap bersemangat untuk bergabung kepadanya serta para penglimanya.Musibah yang telah menimpa pasukan patroli pimpinan komandan Paris yang bergerak secara ceroboh itu, sudah menjadi buah bibir, pengaruhnya amat besar pada barisan pejuang Aceh. Tetapi pasukan Cut Ali tidak begitu berhasil menghadapi pasukan patroli pimpinan Batten, yang telah memberikan perlawanan tangguh dan tidak kehilangan satu pun senapang karabennya, walaupun banyak serdadu yang menderita luka.


“Pihak lawan menderita 10 orang tewas. Lebih buruk lagi keadaan yang mereka alami tak kala menyergap pasukan patroli pimpinan komandan Klaar, yang memberikan tangkisan sengit serta bertarung dengan cemerlang, sehingga Letnan Klaar menerima tanda jasa nya,” tulis HC zentgraaff, mantan serdadu Belanda yang dimasa pensiunnya menjadi wartawan.Pada Mei dan Juni 1926, penduduk Trumon bersikap sangat menantang, dan keadaan menampakkan bahwa masih banyak darah akan mengalir. Inti perlawanan itu, dipimpin Cut Ali, yang kembali mengobarkan semangat perang.


Nafsu untuk mengadakan petualangan perang berkobar di mana-mana, dan rombongan-rombongan anak-anak muda yang hanya bersenjatakan tajam belaka berani-berani menyerbu karaben-karaben pasukan-pasukan Belanda.Zentgraaff menggambarkan Cut Ali sebagai seorang tokoh jantan berwatak, yang memiliki jiwa ksatria, yang membuat lawan pun mengaguminya. Pada masa itu ada seorang Kapten, yang menjadi Komandan sebuah bivak militer di Ladang Rimba, yang tidak punya jiwa militer, serta enggan bertempur.


“Bivak militer itu di suruhnya buat tiga lapis pagar di sekelilingnya, lengkap dengan jalur berisi ranjau-ranjau, sehingga persis keadaannya seperti suatu benteng terpusat, kenangan yang tidak nikmat untuk diingat. Sudah tentulah dia tidak pernah pergi ke luar bivaknya untuk berpatroli, karena takut terhadap pasukan Cut Ali, dan ini tidak baik,” tulis Zentgraaff.


Terhadap sikap perwira Belanda yang dinilai pengecut tersebut, Cut Ali mengirim surat kepadanya. Isi surat itu, menetangnya untuk berkelahi.


“surat-surat tersebut penuh dengan ancaman-ancaman, datang berulang-ulang dan hal ini sungguh memalukan bagi kita,” lanjut Zentgraaff.Tapi Kapten Belanda itu tidak berkutik. Hal itu pula yang membuat wibawa Cut Ali di mata rakyatnya semakin besar. Seluaruh penduduk merasa puas terhadap keberanian Cut Ali yang telah membuat perwira Belanda mengurung diri dalam bivaknya, takut keluar untuk patroli, apalagi berperang secara frontal.Keadaan itu kemudian diketahui oleh perwira Belanda lainnya bernama, Behrens. Ia segera berakat dengan pasukanya ke sana.


Ia memerintahkan agar Pagar bambu yang berlapis-lapis di sekeliling bivak itu untuk dibongkar dan di singkirkan dari sana. Bahrens terus berusah membangkitkan kembali semangat opara marsose di sana, sampai tahun 1926 suasana menjadi normal kembali.Kemudian harinya, ketika Letnan Molenaar, anggota pasukan patroli di bawah Komando Behrens, mati terbunuh pada suatu penyerangan pada malam hari di pekarangan sebuah sekolah di kampung Teureubangan- ini adalah perploncoan bagi Teuku Nago untuk dapat menjadi panglima- dan Behrens bergerak pulang membawa mayat opsir tersebut.Kepadanya kemudian datang seorang penduduk membawa surat Cut Ali. Isi surat itu, “saya berada disini dengan 80 pasukan, dan kalau tuan tidak datang dengan sekurang-kurangnya 120 serdadu, lebih baik tinggal di rumah saja.


” Surat yang menantang dari Cut Ali membuat Behrens dan anak buahnya berpikir berulang kali untuk memenuhinya. ”Cut Ali betah sekali membuat surat-surat yang demikian; dia selalu menyediakan berbagai macam surat, dan sebagian surat-surat tersebut dapat kita rampas,” jelas Zentgraaff.


Karena tak mampu memburu gerilyawan Cut Ali, pada Juli 1926, Belanda kemudian mengutus kapten Gosenson untuk membantu Behrens. Gosenson ditunjuk sebagai pejabat Kontrolur bagi daerah Aceh Selatan, yakni Kluet dan Trumon. Karena itu Gosenson terlebih dahulu menuju ke Trumon, di mana ia melakukan gerak cepat dalam penumpasan dan dalam tempo yang singkat begitu banyaknya memberikan kemplengan. Ia pun menggunakan orang Aceh sebagai mata-mata untuk memburu gerilyawan Cut Ali. Tapi cuak-cuak itu malah lebih banyak yang ketahuan dan mati di tangan Cut Ali.


Gosenson tak kehabisan akal, ia kemudian membuat seruan, gerilyawan Aceh yang menyerah akan diperlakukan dengan baik. Syaratnya, saat menyerah harus menyerahkan satu kelewang, satu rencong atau tombak. Selanjutnya mereka harus menyerahkan diri menurut adat Aceh.


Ada sebagian gerilyawan Aceh yang menyerah, tapi lebih banyak dari yang menyerah itu hanyalah sebagai alasan jeda sesaat untuk pulang kampung, sebelum kemudian berbelot lagi menentang Belanda. Dalam bulan Juli 1926, rombongan Cut Ali masih melakukan lagi serangan kelewang terhadap pasukan patroli pimpinan Schreuder, tetapi tidak berhasil. Karena pasukan itu tidak mengejar mereka, tetapi bahkan sebaliknya bahkan bergerak pulang, maka Cut Ali merasakan itu sebagai suatu kemenangan baginya.


Dia berdiri di tengah kampung, sambil membuat sikap seolah-olah orang yang memperhatikan sesuatu di kejauhan dengan tangan di atas mata nya, meninjau ke hutan dan berkata, “Ho Ka Kompeuni ? “ (Di mana Kamu Pasukan Kompeuni ?) Ini merupakan lelucon besar dan semua orang senang di buatnya. Seluruh Isi Kampung itu ikut mengajuk bertanya, “Di mana Kamu Kompeuni ?” Hal itu adalah untuk menghina kita, dan Cut Ali adalah orang besar yang selalu banyak humornya. Selama tujuh hari Cut Ali dan masyarakat sekitar mengadakan perayaan di kampung itu. Masakan daging melimpah ruah, semua orang memberikan sumbangan dan ikut berpesta.


Ada seorang perempuan yang sangat tua, rambutnya yang beruban putih terumbai pada wajahnya, keriput dimakan penghidupan yang bekerja keras di ladang, menyeret seekor kambing, satu-satunya yang menjadi miliknya. Dia melakukan sembah dengan hormat kepada Cut Ali sambil berkata, “Nyoe Peuneujoe ulon nibak droeneu teuku ampon.”(“Inilah sumbangan dari saya, pemimpin besar”) Kambing itu kemudian di sembelih dan di buat gulai kambing yang enak. Perempuan tua itu merasa sangat berbahagia, oleh karena hak miliknya satu-satunya itu mendapat berkat pada pemimpin besar yang telah mengalahkan orang-orang Belanda. Setelah pesta itu, Cut Ali dan pasukannya kembali masuk hutan untuk bergerilya, melakukan konsolidasi untuk kemudian kembali melakukan serangan. [iskandar norman]



Teungku Chik Awe Geutah

Posted On 2:16 PM by History Of Aceh 0 comments

[Oleh: Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam pada Tazkiya Institute dan Ketua Yayasan Waqaf Nurul Islam, Lhokseumawe]

[Rumah Teungku Awe Geutah]


Aceh banyak menyimpan tokoh-tokoh besar sejarah. Sekalipun kita cuma pandai mengulang-ulang nama Iskandar Muda dan beberapa tokoh sejarah lainnya—dengan kisah mereka yang terpenggal-penggal dan belum tentu benar, malah seringnya justeru merusak citra tokoh tersebut—tapi pernyataan tadi setidaknya tetap menjadi suatu kenyataan logis. Paling tidak, sebuah kesatuan politik Islami telah tumbuh di kawasan utara Sumatera ini sejak paruh kedua abad ke-8 Hijriah atau ke-13 Masehi, sebagaimana diakui oleh para sejarawan. Bersama munculnya kesatuan politik Islami, sebgai kekuatan baru yang tidak dapat diremehkan di kepulauan nusantara kala itu, tumbuh berkembang pula sebuah peradaban istimewa yang sempat beberapa kali mencapai tingkat puncak kegemilangannya. Dan sebuah peradaban terbentuk tentu hasil keterlibatan ramai tokoh-tokoh yang genius dan cemerlang dalam berbagai lapangan kehidupan.






Rumah Teungku Awe Geutah


Tidak kurang dari 900 tahun silam Aceh telah menjalani kehidupan amat dinamis. Gerak peristiwa dalam skala besar tak pernah reda, sangat lincah, terkadang gemulai indah, terkadang ganas bergemuruh. Dinamika Aceh dalam sejarahnya tak ubah seperti tari-tariannya; seudati, rapa’i, saman. Semua itu diperankan oleh tokoh-tokoh berjiwa besar dengan kecemerlangan yang lebih besar.


Pertanyaannya, sekarang, di manakah mereka dalam ingatan generasi Aceh hari ini?! Atau mungkin kita justeru harus mempertanyakan dari awal: apa perlunya mereka dalam ingatan?! Sayang, jika pola hidup realistis pragmatis (baca: pola mengikuti tuntutan kenyataan hidup yang terbatas pada hal-hal yang memberi keuntungan praktis saja) yang menguasai masyarakat Aceh, hari ini, tanpa disadari semakin mengukuhkan proses pelenyapan sejarah yang sebenarnya banyak mengandung mutiara hikmah dan pelajaran. Lebih sakit lagi, jika pelenyapan sejarah itu justeru dilakukan oleh para pewaris negeri ini sendiri, disadari maupun tidak.


Ketika sejarah dianggap seonggok zaman lalu yang tidak begitu berarti dewasa ini, ketika itu pula kita menjadi bangsa tanpa sejarah, tanpa akar yang kokoh di kedalaman waktu sehingga tak ubahnya kumpulan-kumpulan manusia yang baru saja keluar dari gua-gua persembunyian sejak ribuan tahun silam.


Kita seolah tidak mewarisi apa pun dari generasi-generasi terdahulu; tidak ruhani, pikiran, perasaan, budaya, bahasa, dan tidak pula negeri ini. Lantas bagaimana kita bisa tahu bahwa kita ada sebagai sebuah bangsa. Kalau ini dituangkan dalam acuan Doute Methodique-nya Descartes: dapatkah kita tahu bahwa kita ada sebagai sebuah bangsa bila tanpa ruhani, pikiran, perasaan dan lainnya yang kita wariskan dari generasi-generasi terdahulu, tentu jawabnya, tidak. Sebab, jika manusia diketahui ada karena ia berpikir (Cogito ergo sum), maka hemat saya, sebuah bangsa diyakini ada adalah karena ia memiliki sejarah; menyadari serta menghayatinya.


Tanpa sejarah, sebuah bangsa hanya tinggal nama, dan sejatinya ia tak lebih dari sebuah perhumaan baru di mana siapa saja boleh memiliki, merebut atau malah merampasnya dengan keji.Tipisnya kesadaran terhadap masa lalu dengan pelbagai pelajarannya, baik dalam bentuk anasir-anasir kekuatan maupun kelemahan yang ditampilkannya, terutama di kalangan generasi muda hari ini, menimbulkan suatu kegelisahan terhadap masa depan bangsa di hari mendatang—di samping negeri ini memang masih sangat menggelisahkan bagi orang kecil seperti saya.


Kegelisahan itulah salah satu sebab yang mendorong saya untuk berkunjung ke situs sejarah di Awe Geutah, kira-kira 8 km dari kota Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen, ke arah tenggara, yaitu situs rumah adat Aceh, Bale Khalut dan makam Teungku Chik di Awe Geutah.Dari empat kali kunjungan ke Awe Geutah yang disambut baik oleh keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah seperti layaknya penyambutan setiap tetamu yang datang berkunjung dari berbagai daerah dan negara, dua kali di antaranya paling berarti bagi saya. Dalam dua kali kunjungan itu saya benar-benar menemukan “harta karun” tak ternilai peninggalan Teungku Chik Awe Geutah yang masih terus dirawat dan dijaga oleh anak cucu keturunannya, sekalipun perhatian pemerintah atau pihak lainnya untuk hal ini dapat dikatakan relatif minim.


Harta karun itu berupa lembaran-lembaran lusuh dari naskah-naskah salinan tangan (manuskrip), yang diyakini adalah salinan Teungku Chik Awe Geutah sendiri dan putranya Muhammad Zain.Dari keluarga turunan Teungku Chik Awe Geutah diperoleh keterangan bahwa nama asli Teungku Chik (adaptasi dari kata Tuan-ku Syaikh) adalah ‘Abd Ar-Rahim (Abdurrahim).


Keterangan yang sama juga diperoleh dari beberapa catatan pada lembaran-lembaran tua tersebut, tertulis dalam aksara dan bahasa Arab, Abd Ar-Rahim (Abdurrahim) Al-Asyi. Cuma saja, mungkin karena pemeriksaan yang sepintas lalu dan tergesa-gesa, saya tidak berhasil menemukan catatan yang menyebutkan asal turunan dari Teungku Chik ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi. Keluarga keturunannya yang ditemui dalam kunjungan saya itu juga tidak dapat memberikan informasi mengenai hal ini.


Boleh jadi nama ayahnya adalah Asy-Syaikh ‘Abd As-Salam, tapi ini juga belum begitu kuat. Namun yang jelas, setelah memperhatikan catatan-catatan yang tidak menyebutkan di ujung namanya selain Al-Asyi, saya menduga bahwa ia bukan keturunan bangsa Arab maupun lainnya, tapi adalah keturunan Aceh asli dan dilahirkan di Kuta Raja atau al-Asyi al-Mahrusah (sebutan terakhir tercantum dalam “Siraj al-Zhulam fi Ma’rifah al-Sa’d wa al-Nahs fi al-Ayyam” dalam kumpulan “Taj al-Mulk” yang menandakan Bandar Aceh dahulunya dikitari semacam benteng penjagaan dan memiliki gerbang-gerbang atau bab tertentu).


Saya memperkirakan, di Bandar Aceh-lah, Teungku Chik dibesarkan dan mengecap pendidikan awal ilmu-ilmu bahasa Arab dan Islam sebelum kemudian ia meneruskan studinya ke Jazirah Arab, terutama dua kota Al Haram (Al-Haramain), Makkah dan Madinah, kemungkinan besar juga ke Yaman, atau tepatnya di Zabid.Mengenai perantauannya ke Jazirah Arab, ini dapat diketahui dari catatan-catatan sanad Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin karya Imam An-Nawawi, sanad hadits pengalihan kiblat (hadits musalsal), serta silsilah ratib Haddad yang terdapat di antara lembaran-lembaran manuskrip tersebut.


Dalam catatan itu disebutkan bahwa Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin, begitu pula sanad hadits tadi, ia terima dari gurunya, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji (Mizjaj: kabilah di Zabid). Terakhir adalah seorang ulama terkenal di Zabid. Sumber-sumber yang dikutip Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” menyebutkan bahwa ‘Ali Al-Mizjaji ini adalah salah seorang guru termuka dari Murthadha Az-Zabidi (wafat 1205 H), pengarang Taj Al-’Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin. (Ayzumardi Azra, 2005).


Tapi dalam hal ini perlu juga diberi catatan, sebab sekalipun saya tidak syak lagi tentang perantauan Teungku Chik ke Jazirah Arab baik untuk menuntut ilmu maupun menunaikan ibadah haji, namun saya menaruh curiga, Teungku Chik berguru kepada ‘Ali Al-Mizjaji bukan di Zabid, tapi justeru di Aceh. Alasan kecurigaan ini adalah karena sumber-sumber Azyumardi Azra yang kebanyakannya dari para sejarawan Timur Tengah, tidak menyebutkan tempat dan tahun wafat ‘Ali Al-Mizjaji. Ini boleh jadi lantaran mereka kehilangan jejak ‘Ali Al-Mizjaji setelah yang terakhir ini berhijrah dan membuka halqah pengajarannya di Aceh. Namun demikian, untuk membuktikan benar atau kelirukah kecurigaan ini perlu kepada penyelidikan lebih lanjut.Hal lain yang belum diketemukan keterangan pasti baik lisan maupun tulisan adalah menyangkut tahun lahir dan wafat Teungku Chik.


Hanya saja, dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa Teungku Chik hidup sezaman dengan Murthadha Az-Zabidiy (1145 H-1205 H) lantaran sama-sama berguru kepada ‘Ali Al-Mizjaji, boleh jadi Az-Zabidiy dalam masa waktu yang lebih awal, tapi jelasnya berhampiran. Dan keduanya, Az-Zabidiy dan Teungku Chik Al-Asyi sama-sama menyimpan kekaguman serta kedekatan emosional dengan guru mereka bersama, ‘Ali bin Az-Zain Al-Mizjaji. Jika Az-Zabidiy kemudian telah memantapkan kedudukannya sebagai ulama terkemuka dunia Islam penghujung paro kedua abad ke-12 Hijriah di Mesir, tempat di mana ia wafat, maka Teungku Chik Al-Asyi adalah ulama sepantarannya di Aceh dan kepulauan nusantara dalam kurun waktu yang sama. Hal ini didukung bukti yang akan kita ungkapkan kemudian.


Dari catatan ijazah (pemberian sanad periwayatan) Al-Azkar dan Riyadh ash-Shalihin oleh gurunya, ‘Ali Al-Mizjaji, dapat diketahui pula bahwa Teungku Chik adalah salah seorang murid terdekat dan tersayang tuan gurunya. Selain ijazah dari gurunya itu diperuntukkan khusus untuknya, bukan ijazah untuk umum, yang dalam hal ini tentu punya nilai lebih, ungkapan dalam ijazah berteks Arab tersebut juga mengesankan kasih sayang sang guru: “[Tahmid dan shalawat]. Wa ba’d, maka inilah sanad Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin bagi Al-Imam Syaraf Ad-Din An-Nawawi Rahimahullah.


Faqir kepada Allah, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji, semoga Allah memanjangkan umurnya, berkata: sesungguhnya aku telah me-ijazah-kan ananda yang shalih, ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi sebagaimana telah di-ijazah-kan kepadaku keduanya (Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin) Ayahanda, wali yang sempurna lagi menyempurnakan, dan Al-’Arif bi-lLah, Az-Zain bin Muhammad Al-Mizjaji…”Perasaan serupa serta penghormatan yang dalam juga ditunjukkan Teungku Chik kepada gurunya seperti terlihat jelas dalam catatan ijazah sanad hadits pengalihan arah kiblat. “[Tahmid dan Shalawat]. Wa ba’d, maka sungguh telah di-ijazah-kan kepadaku oleh guruku (syaikhiy) lagi panutanku (quduwwatiy), seorang yang utama dan sempurna, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji [hadits yang diterimanya] dari Asy-Syaikh Mulla Ibrahim Al-Kurdiy Al-Kuraniy…”Kesungguhan dan ketulusannya dalam menuntut ilmu begitu pula adab dan penghormatannya kepada ahl al-’ilmi (ulama), yang juga berarti pengakuan terhadap penting dan mulianya ilmu pengetahuan, semua itu telah mengantarkan Teungku Chik pada kedudukan terpandang dalam dunia ilmu pengetahuan. Ia diakui layak menyandang predikat al-’Allamah (orang yang sangat alim) oleh sesama ulama yang hidup di zamannya.


Tapi, sekalipun demikian ia adalah seorang yang sangat rendah hati dan berakhlak tinggi sebagaimana layaknya seorang ulama. Semua ini tampak jelas dari sebuah salinan tangan dari Asy-Syaikh ‘Abdullah ibn ‘Abd Al-Hadi Asy-Syazili Al-Yamani, seorang ulama asal Yaman dan ber-thariqat Asy-Syaziliyyah. Dalam salinan berteks Arab itu diungkapkan: “[Tahmid dan shalawat]. Wa ba’d, maka telah meminta kepadaku Saudaraku yang shalih lagi sangat alim (Al-’Allamah) al-Hajj (Haji) ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi agar ku-ijazah-kan kepadanya ratib Al-Habib Haddad…” Di sini, pengakuan teman sejawat akan kealiman Teungku Chik dengan menyebutnya Al-’Allamah (sangat alim) ternyata tidak menghalangi Teungku Chik untuk mengakui kelebihan yang dimiliki oleh rekan sezamannya.


Permohonan Teungku Chik kepada Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Yamani untuk di-ijazah-kan ratib Haddad kepadanya merupakan sikap tawadhu’ atau rendah hati seorang ulama sejati. Dan inilah adab para ulama dengan sesama mereka.Setelah perjalanan menuntut ilmu yang panjang, akhirnya Teungku Chik pun mengabdikan ilmunya di Awe Geutah, Peusangan. Madrasah serta zawiyah yang dibangunnya terkenal sebagai pusat pengajaran Al-Qur’an, hadits, fiqh dan tasauf. Dari beberapa manuskrip yang masih tersimpan di pustaka Teungku Chik, yang barangkali juga merupakan sisa-sisa dari jumlah yang sesungguhnya, tampak keluasan dan keragaman ilmu pengetahuan yang dikembangkan.


Di antara manuskrip terpenting ialah “Fath Al-Qadir bi Ikhtishar Muta’alliqat Nusuk Al-Ajir” karangan Al-’Alim Al-’Allamah Muhammad ibn Sulayman Al-Kurdiy (wafat 1194 H).Selain itu, Teungku Chik juga meninggalkan keturunan yang mengikuti garis kealimannya. Sebuah catatan berteks Arab di lapik salah satu manuskrip mengungkapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami seorang anak laki-laki, shalawat beserta salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para shahabat beliau, para pemilik nikmat (uli al-ayad). Maka tatkala tahun hijrah Nabi saw. 1724, dan hari keempat permulaan bulan Sya’ban, telah lahir seorang bayi laki-laki, Dawud ibn ‘Abd Al-Muhsin ibn Muhammad Zain ibn ‘Abd Ar-Rahim Awi Geutah, semoga Allah meridhai mereka dan menempatkan mereka dalam syurga atas apa yang telah mereka perbuat.”Menurut sumber keluarga keturunan Teungku Chik, nama-nama yang tersebut dalam catatan di atas adalah para alim ulama yang mengikuti jejak Teungku Chik dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan syari’at.


Sumber tersebut juga menyatakan bahwa Muhammad Zain, putera Teungku Chik, adalah seorang sarjana Islam yang pernah lama menuntut ilmu pengetahuan di Jazirah Arab. Dan tampaknya kepada Muhammad Zain inilah ditujukan sebuah surat, yang sepertinya didiktekan oleh Teungku Chik kepada seseorang dan terlihat belum selesai secara utuh. Dalam surat tersebut, Teungku Chik mensinyalir kerinduannya kepada ananda yang jauh di negeri Arab sebab sudah lama tak menerima kabar darinya.“Perasaan seorang ayah menanti-nanti berlalunya hari dan waktu sampai dengan ia kembali ke negeri walaupun hanya untuk sesaat,” ungkap Teungku Chik dalam surat tersebut.


Ada getar-getar keharuan saat saya merenungi isi surat pendek yang belum benar siap itu. Sepertinya, Teungku Chik tidak ingin dikultuskan menjadi sosok di atas manusia. Ia juga dapat merasa pedih dan bahagia, rindu dan senang seperti manusia lain. Dan bukankah dalam kemanusiawiannya manusia, sebuah perjuangan hidup menjadi begitu berarti?!Saya menemukan wajah hakiki Serambi Mekkah dalam watak perjalanan hidup Teungku Chik di Awe Geutah. Rupanya, seperti hidupnya-lah julukan “Serambi Mekkah” itu harus dimaknakan. Inilah identitas. Dan saya yakin kita tahu, dan orang lain pun tahu, bahwa itu adalah identitas kita. Tapi bersediakah generasi Aceh hari ini dan masa depan untuk mempertahankannya di tengah-tengah badai globalisasi, yang juga terkadang berpasangan dengan “sentralisasi” budaya dengan dominasi budaya satu-satu etnis, yang sedang menerpa kuat? Doa dan kerja keras untuk itu, adalah “utang” yang mesti kita bayar kepada generasi dahulu yang telah berbuat banyak untuk tanah ini. [HA]



PRANG DEUNGON BEULANDA: TARAF KEU DUA Desember 1873 - Désèmbèr 1911

Posted On 1:59 PM by History Of Aceh 0 comments

PRANG DEUNGON BEULANDA: TARAF KEU DUA

Desember 1873 - Désèmbèr 1911


Taraf njang keu dua nibak prang Atjèh deungon Beulanda mulai teuma 8 buleuën Iheuëh Beulanda talô njan. Bak buleuën Désèmbèr, thôn 1873, teuntra Beulanda djiteuka keulai u Kuala Atjèh deungon keukuatan meulipat ganda nibak njang ka.


Bak uroë 9 buleuën Desember njan, 8000 sidadu Beulanda deungon djipimpin Ié djeundral van Swieten dan djeundral van Spijck, djipeuék prang keulai ateuëh geutanjoë Atjèh. Pakri ban hibat peurlawanan geutanjoë Atjèh bak watèë njan ka Iheuëh ulôn tuléh dalam buku Prang Atjèh, 20 thôn njang ka u likôt, lagèë njoë:"Bah that pih deungon alat sinjata njang leubèh kureuëng nibak Beulanda, teuntra dan rakjat Atjèh geu peutheun kuta trôk'an maté.Bak watèë njoë Beulanda rupadjih ka djimeusumpah bak ék djiteubôh meunalèë talô njang ka u likôt. Sabab njan bah that pih meuribèë sidadu djih njang maté, hana djipadôli. Bak uroë 6 buleuën Djanuari, thôn 1874, Beulanda trôh djitamong u Panté Pirak.




bagian rot Baroh Kutaradja. Deungon njo6 njata Beulanda ek djimadju dalam sibeuleuen muprang tjit 4 batee sagai. Prang hana reuda uroe-malam. Bak uroe 12 Djanuari, Beulanda djitamong u Kuta Gunongan, djadi ék djimadju na keuh kira-kira 750 mètè watèë Iheuëh muprang sigo Djeumeu'at.


Nibak Kuta Gunongan u istana Atjèh djeuôh djih tjit 100 mètè treuk sagai. Bah that pih meunan, teuntra Atjèh mantong geupeutheun teumpat njan deungon kha that. Lheuëh muprang meu hubô-hubô 12 uroë 12 malam treuk barô Beulanda trôh djitamong u istana Atjèh, njan pih keureuna Peumeurintah Atjèh ka geutjok putôsan geupeusoh istana njan sabab ka keunong peunjakét kolèra akibat Ie that ureuëng maté ban saboh kuta.


Bak uroë 24 Djanuari, 1874 -- djadi watèë lheuëb djimuprang leubèh teungoh-dua-buleuën dalam djarak kira-kira 5 batèë - barô Beulanda djeuët djitamong dalam istana Atjèh, teutapi djiteumeung istana njan ka geu peusoh Ié ureuëng Atjèh dan hana meurumpok meusidroë ureuëng pih disinan."Uroë van Swieten tamong u Kutaradja deungon kuta njan ka geu peusoh Ié Peumeurintah Atjèh saban that lagèë uroë Napoleon tamong u kuta Moskow, bak thôn 1812, bak watèë njan pih kuta njan ka djipeusoh Ié Peumeurintah Rusia.


Napoleon beungèh that sabab hana djiteumeung meusidroë ureuëng ulèë nanggroë Rusia njang djeuët djijuë tèkèn surat meunjeurah. Meunan tjit van Swieten palak raja. Djisangka lé djih, deungon djitjok Kutaradja ureuëng Atjèh ka ék djih peutalô dan Pemeurintah Atjèh akan keumaih djih juë tèkèn saboh surat meunjeurah. Peuë lom bak masa njan, menurôt reusam dônja atawa meunurôt hukôm internasional, saboh-saboh nanggroë goh lom djeuët geukheun talô prang meunjo goh lom djitèkèn surat tanda ka meunjeurah.


Peumeurintah Atjèh pih geuteupeuë peukara reusam dan hukôm dônja njoë. Sabab njan, Sultan Mahmud Sjah han sagai neutém tèkèn surat meunjeurah njan njang djilakèë that lé Beulanda. Bak watèë Sultan Mahmud Sjah wafeuët, bak uroë 28 Djanuari, 1874, keureuna droëneuh njan hana neu tinggai keuturônan, maka Peumeurintah Atjèh na dalam djaroë saboh Meudjeulih nanggroë Atjèh, njang teudong nibak Tuanku Hasjém, Teuku Panglima Polém Muda Kuala dan Teungku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abèë.


Peumeurintah Meudjeulih nanggroë Atjèh njan pih han geutèm tèkèn surat meunjeurah njan. Sithôn watèë Iheuëh njan, njakni bak thôn 1875, uléh Meudjeulih Nanggroë njan geupiléh Tuanku Muhammad Dawôd, sidroë famili Sultan njang mantong aneuk miët bak watèë njan, sibagoë tjalon Radja, dimijub asôhan Tuanku Hasjém, njang peutimang nanggroë sibagoë Geunantoê Radja. Meunankeuh, prang geupuga ladju, dan bak watèë Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman djeuët keu Panglima Prang, ban Ihèë ureuëng angèëta Meudjeulih nanggroë Atjèh njan, bak duëk, bak dong, meusapeuë kheun that deungon droëneuh njan trôk'an bandum ureuëng rajek Atjèh njan abéh umu dalam prang.


Bak watèë prang makén dahsjat, dan buët peuseulamat nanggroë Atjèh njoë makén pajah that, Peumeurintah Atjèh geupulang dalam djaroë Teungku Tjhik di Tiro Ié Meudjeulih nanggroë njoë. Sibagoë Wali Nanggroë Atjèh, Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman geuhôi deungon nan rasmi; Mukarram Maulana Almudabbir Almalik Teungku Tjhik di Tiro (kalon, antara laén, surat Tuanku Radja Keumala, Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polém, bak ôn 41).Teutapi bak watèë Mukarram Maulana Almudabbir Almalik Teungku Tjhik di Tiro mulai mat pimpinan nanggroë njoë, keuadaan ka meu ubah that.


Teuntra Atjèh njang ka seuleusoë neu atô keulai lé Teungku Tjhik di Tiro ka teuga teuma. Djinoë kon lé Beulanda njang djak lakèë geutanjoë supaja ta meunjeurah keu djih, teutapi geutanjoë Atjèh njang lakèë Beulanda supaja djimeunjeurah mantong bak geutanjoë . Bak thôn 1884 (10 thôn watèë Iheuëh Beulanda djipeunjata bak dônja bahwa djih ka djipeutalô Atjèh) Beulanda djirasa droëdjih keumeung talô prang sigo treuk deungon Teuntra Atjèh njang ka Iheuëh teususôn dan teu atô keulai njan, hingga pimpinan teuntra Beulanda djitjok putôsan hana guna djimuprang lé deungon ureuëng Atjèh.


Njang peureulèë tjit peuseulamat njawong mantong, peutheun droë asai bèk pajah pluëng u laôt lagèë 11 thôn njang ka u likôt, dan peuseulamat nan Beulanda nibak maléë bak dônja. Deungon meukeusud lagèë njan, maka bandum sidadu Beulanda njang na di Atjèh djipeusapat dalam saboh kuta di Kutaradja. Kuta njan djipeunan dalam basa Beulanda "geconcentreerde linie" -- kuta meusapat.Mulai thôn 1884 trôk'an thôn 1896, djadi 12 thôn meuturôt-turôt Beulanda hana djiteubiët lé, djimeusom dalam "kuta meusapat" djih bèk keunong peudeuëng dan aneuk beudé teuntra Atjèh.


Bak watèë njan, lagèë ka djituléh lé Kreemer, Teungku Tjhik di Tiro "ka keumaih geupeudong saboh teuntra njang raja that......Gobnjan ka geupeurintah peudong kuta-kuta ubit ban silingka kuta-kuta geutanjoë bandum, dan pat njang mungkén tjit bak binèh aneuk mata geutanjoë, hingga gobnjan ka geukurông geutanjoë deungon keukuatan sindjata." *Dalam surat-meunjurat antara Teungku Tjhik di Tiro deungon Peumeurintah Beulanda bak buleuën Séptèmbèr 1885, ka neu peugah, sibagoë tanda djroh haté bansa Atjèh, Peumeurintah Atjèh geubri peuleuweuëng keuneuleuëh keu Beulanda bèk malèë djih bak dônja, bèk keunong lét sigo treuk, djeuët djiduëk di Nanggroë Atjèh maniaga, meunjo djitém tamong Islam dan dimeungaku dèëlat hukôm

Peumeurintah Atjèh.


Beulanda, lagèë ka tateupeuë, na djimupakat peukara njan trôk'an dalam Kabinèt djih di den Haag, dan keuneuleueh djidjaweuëb deungon putôsan Kabinet Beulanda bak 15 Agustus, 1888, djitulak peuleuweuëng njang ka geutém bri lé Peumeurintah Atjèh njan. Watèë Iheuëh njan, teuntra Atjèh geumulai peuék prang* "Hij vormde een vast leger.. . . Hij liet onze geheele linie om-ringen door een kring van kleine zooveel mogelijk aan ons oog onttrokken bentengs, zoodat het er veel van had, of hij het was, die ons met kracht van wapenen ingesloten had. " J. Kreemer, Atjèh ôn 27.keuneuleuëh peuglèh nanggroë Atjèh njoë nibak sidadu Beulanda dan sidadu lamiët Djawa. "Kuta meusapat" Beulanda njang luwaih djih tjit padum kilomètè sagai njan, geuprang uroë malam lé teuntra Atjèh.


Le that ka tanda-tanda bak watèë njan Beulanda akan ék geupeutalô sigo treuk lé teuntra Atjèh dalam saboh watèë njang paneuk. Dumpeuë njang djroh dalam peukara "strategy" dan "tactics" prang na dalam djaroë teuntra Atjèh. Beulanda keudroë djih pih djimeungaku neuduëk djih bak watèë njan lagèë njoë; "Bandum keu untôngan njang djroh that bak peuék prang na dalam djaroë musôh (Atjèh); djinoë ureuëng njan djeuët geupeuék prang ateuëh geutanjoë (Beulanda) pakri ban njang galak geuh, teuma digeutanjoë njang djeuët bak peubuët hana laén nibak ta peutheun droë mantong bak saboh teumpat.


"* Teutapi bak masa njankeuh, deungon hana soe sangka, Mukarram Maulana Almudabbir Almalik Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman wafeuët keunong ratjôn nibak djaroë-gaki Beulanda (buleuën Djanuari, 1891). Deungon hana droë neuh njan, maka organisasi Peumeurintah Atjèh mulai leumoh batjut-batjut.Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman neu gantoe lé Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Amin, aneuk tuha droë neuh njan, sibagoë Panglima Prang dan Wali nanggroë Atjèh. Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Amin neu peugot Kuta Aneuk Galông keu Markas Pusat Teuntra Atjèh njang peurtahanan djih neupimpin keudroë neuh. Droëneuh njan na sidroë panglima prang njang beuhô njang ka padum go reubah dalam mideuën prang. Bak thôn 1896, watèë ka trôk bantuan 5000 sidadu barô nibak Djawa, njang teudong nibak sidadu Beulanda toktok dan ladom sidadu lamiët Djawa, Beulanda djiteubiët keulai nibak "kuta meusapat" djih dan djitji muprang keulai deungon geutanjoë Atjèh. Prang rajek njang phôn that dji peuék njankeuh ateuëh Kuta Aneuk Galông, Markas Raja Teuntra Atjèh bak watèë njan.


Pakri ban dahsjat prang Kuta Aneuk Galông ka djituléh Ié peungarang Beulanda, H. C. Zenfcgraaf, lagèë njoë:"Ureuëng Atjèh geumuprang lagèë singa; le njang piléh maté dalam kuta njang teungoh tutông njan, nibak djak meunjeurah. Prang njoë na saboh prang meutjang-tjang, meutak-tak deungon djaroë, njang dahsjat that; hana soë njang lakèë ampôn, dan hana soë njang bri ampôn.. .. Nibak ureuëng Atjèh njang maté dalam prang njoë rôh Teungku Muhammad Amin di Tiro. Manjèt droë neuh"Aan den vijand waren alle voordeelen van het initiatief in de hoogste mate verzekerd, thans was hij hefc, die offensief kon optreden, terwijl wij one tot lijdelijke afweer moesten bepalen. " J. Kreemer, Atjèh, ôn 27. njan geuba lé ureuëng Atjèh keudéh u gampông Mureuë.... disinan droë neuh njan geutanom toë kubu Abu neuh.


"*Bah that pih geutanjoë gadoh saboh kuta, geutanjoë hana gadoh nan dalam prang Kuta Aneuk Galông njan, sabab pahlawan-pahlawan geutanjoë geutu'oh hudép dan geutukri maté. Geutanjoë ka kureuëng saboh kuta, teutapi geutanjoë ka meutamah mulia bak mata dônja, keureuna buët pahlawan-pahlawan geutanjoë di Kuta Aneuk Galông njan.Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Amin neugantoë lé adèk neuh, Teungku Tjhik di Tiro Mahjèddin ( Teungku Tjhik Majèt di Tiro) sibagoë Panglima Prang dan Wali nanggroë Atjèh dalam buët peutheun dèëlat nanggroë njoë. Watèë Iheuëh prang Kuta Aneuk Galông, peurteumpôran ka meu sipreuëk ban saboh Atjèh. Meuribèë-ribèë sidadu Beulanda deungon sidadu lamiët djih Djawa, djidjak ban saboh nanggroë geutanjoë, djitot rumoh dan djipoh ureuëng deungon hana sabab.


Teutapi teuntra Atjèh geulawan sabé, djinoë deungon geupimpin Ié Teungku Tjhik Majét di Tiro. Panglima-panglima Atjèh hantom geumeunjeurah meunjo mantong hudép. Hantom Beulanda djiteumeung tjok saboh kuta deungon hana muprang, atawa saboh gampông deungon hana meutjang. njoë pih djimeungaku tjit lé ahliahliseudjarah Beulanda.


"Tiëp-tiëp sibudju inong djaroë tanoh njang geutanjoë tjok di Atjèh bandum meulabo deungon darah," kheun Dr. Julius Jacobs. **


Bak thôn 1908, 12, thôn watèë Iheuëh prang Kuta Aneuk Galông, prang mantong goh lom reuda. Beulanda djitjuba keulai politék meudamè dan Ulèë Peumeurintah peundjadjah Beulanda di Atjèh djilakèë meurundéng deungon Teungku Tjhik Majét di Tiro.


Meunantjit dalam buët njoë, uléh Beulanda dji juë ureuëng ulèë Atjèh njang ka djak meunjeurah bak djih lagèë Tuanku Radja Keumala, Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polém Muhammad Dawôd, supaja geukirém surat keu Teungku Tjhik Majét di Tiro dan panglima-panglima Atjèh njang laén*"De Atjèhers vochten als leeuwen; sommigen stortten zich liever in de bradende barakken dan zich over te geven. Het was een bitter 'hand-to-handfighting'; kwartier werd niet gevraagd en niet gegeven.... Tot de gesneuvelden behoorde Tengku Mat Amin di Tiro, en zijn lijk werd door zijn menschen gebracht naar kampong Mureue.. .waar het begraven werd naast dat van zijn vader. " H. C. Zentgraaf, Atjèh, ôn 20, 25.


**"Iedere duimbreedte grounds, die door ons op Nord-Sumatra werd veroverd, is gedrenkt met het bloed. " Het Familie en Kampongleven op Groot Atjèh, djiléd I, ôn 373.sadjan droëneuh njan mangat djak meunjeurah mantong bak Beulanda (kalon surat ureuëng njan bak ôn 41). Lagèë ahli seudjarah Beulanda pih djipeusabét tjit,"surat njan na geuteurimong lé Tengku Tjhik Majet dan geutanjoë ta teupeuë na geumupakat peukara asoë surat nibak Ihèë droë ureuëng rajek njang ka djak meunjeurah njan, deungon panglimapanglima Tiro njang laén. Hana meusidroë pih nibak ureuëng njan njang geutém meunjeurah.


Hana meusidroë pih njang geutém tinggai peurdjuangan: bandum ureuëng njan teutap kong that niët bak geumuprang trôk'an keu neuleuëh, dan bandum ka keumaih bak geuteurimong dumpeuë akibat peurdjuangan njoë ban keuheundak Tuhan."*Hana saboh peuneutôh njang leubèh raja, hana saboh pusaka njang leubèh mulia, njang ka geutinggai keu geutanjoë sibagoë saboh bansa lé éndatu: njoë keuh pusaka njang leubèh meu jum nibak meuh meu bungkai, nibak intan-beulian, sabab njoë keuh pusaka njang djeuët keu pangkai njang ék peugisa keumuliaan bansa.


Bak uroë 5 buleuën Séptèmbèr, 1910, 14 thôn Iheuëh prang Kuta Aneuk Galông, 37 thôn Iheuëh prang Kuala Atjèh, Teungku Tjhik Majét di Tiro reubah dalam mideuën prang Gunong Alimon, Dua aneuk beudé Beulanda keunong bak djantông droëneuh njan. Seunambôt Beulanda bak watèë djiteupeuë Teungku Tjhik ka reubah, ladju djipeumeusu lagu keubangsaan Beulanda, Wilhelmus, ban saboh glé, sabab keudjadian njan djianggap na saboh keumeunangan njang raja that. Meunantjit djipiké deungon maté Teungku Tjhik Majét prang pih ka habéh. Sidadu njang timbak Teungku Tjhik njan djiba u nanggroë Beulanda djak teurimong bintang nibak djaroë Radja Beulanda dan dipeudjamèë di istana Beulanda.


Seunambôt bangsa Atjèh ateuëh keudjadian njan meulaén teuma. Bak watèë manjèt Teungku Tjhik Majét di Tiro geupeuwoë u keudè Tangsé mangat geutanom, meuribèë-ribèë ureuëng Atjèh, inong deungon agam, meuhudôm geuteuka u keudè Tangsé sira geumoë. Idja peureuban luka-luka Teungku Tjhik njang ka mirah deungon darah droë neuh njan njang ka béh rhô, geu keubah; teuma, watèë Iheuëh geuseumijub Teungku Tjhik dalam tanoh Atjèh njoë njang ka neu peutheun 14 thôn dimijub pimpinan droëneuh njan, idja peureuban meudarah njan geutjriek ubit-bit lé ureuëng Atjèh dan geubagi-bagi sitjriek sapo keu ureuëng-ureuëng ulèë njang hadé, sibagoë tanda peuingat keu Teungku Tjhik njang ka hana lé njan.


*"Deze brief is inderdaad in net bezit van Tengku Tjhi' Majét gekomen, en het is bekend dat hij over dit advies der drie onderworpen hoofden met de andere Tiromannen heeft gesproken. Niemand hunner was genegen den strijd op te geven;zij wilden vechten tot het einde, en met hem zou geschieden naar Allah's will. " H. C. Zentgraaf, Atjèh, on 28.


Bak watèë djikalon tabi'at ureuëng nanggroë Atjèh njoë saban deungon tabi'at ureuëng nanggroë Rom, peungarang Beulanda njang tuléh riwajat njan nibak haba teuntra Beulanda njang kalon keudjadian njan, djikheun: "Soë njang han teu ingat – bak watèë ta kalon njoë- keu narit Marcus Antonius bak gaki manjèt Kaesar Julius (Julius Ceasar) dalam pidato gobnjan njang hana lawan njan dikeuë Meudjeulih (Forum) Nanggroë Rôm (leubeh 2000 thôn njang ka u likot):


"Rakjat nanggroë Rôm djiteuka


Djak tjôm luka Kaesar,


Dan djak sampôh darah sutji droëneuh njan


Deungon tangkulôk djih;


Njo, djak lakèë ôk droëneuh njan


Meu siurat keutanda peu ingat,


Dan bak watèë ureuëng njan maté


Atra njan geutuléh dalam surat wasiët,


Sibagoë keuneubah pusaka raja


Njang meuhai leupah naKeu aneuk tjutjo.


*Bak uroë 3 September, 1910, dua uroë joh goh lom Teungku Tjhik Majét di Tiro reubah, peurumoh droëneuh njan, Potjut Gambang, pih ka sjahid maté keunong beudé Beulanda dalam seuëh prang Gunong Alimon.


Lhèë buleuën jôh gohlom njan bak 21 buleuën Mei, sjèëdara droëneuh njan, Teungku Tjhik Bukét (Teungku Muhammad Ali Zainul Abidin di Tiro) pih ka maté sjahid dalam prang Gunong Alimon njan tjit njang meu buleuën-buleuën, disinan teuntra Atjèh geumuprang deungon Beulanda bak djeuëb-djeuëb putjak glé, dan bak djeuëbdjeuëb putjôk aluë.


Dua droë treuk sjèëdara Teungku Tjhik Majét pih ka maté sjahid dalam mideuën prang leubèh dilèë: Teungku di Tungkôb (Teungku Béb) sjahid dalam prang Lhôk Panaih, thôn 1899; Teungku Lam Bada, sjahid dalam prang Aluë Keunè, thôn 1904.


*"Wie herinnert zich niet de woorden van Marcus Antonius bij Cesar's lijk, in die onovertroffen toespraak op het Forum te Rome:


"En doopten doeken in zijn heilig bloed,


Ja, smeekten ter gedachtenis om een haar,


En noemden 't stervend in hun laatste wil,


En lieten 't, ais een kosteiijke erfenis,


Hun kroost en nakroost na.


"W.A. van Goudoever dan H. C. Zentgraaf, Sumatraantjes, on 162. Njoë na keuh salénan nibak sjair njang asai dalam basa Inggréh keunarang William Shakespeare:


"And they would go and kiss dead Ceasar's wounds


And dip their napkins in his sacred blood;


Yea, beg a hair of him for memory


And dying, mention it within their will


Bequeathing it as a rich legacy


Unto their issue.


"Julius Ceasar,

Act III, Scene II.


Kolonel Schmidt, komandan teuntra Beulanda di Tangsé bak watèë njan, ka djituléh lagèë njoë:


"peuë akibat politék nibak peurteumpôran keuneuleuëh (Gunong Alimon) njoë na keuh raja that dan mantong goh lom ék ta peugot keunira; teutapi njang ka trang, Tengku Tjhik Majét njang geupeunan lé ureuëng Atjèh Tanglông nanggroë hana mungkén na soë gantoë deungon peungarôh njang saban....


Djinoë buët njoë ka trang that, paneuk, dan teugaih:Tengku di Tiro njang keneuleuëh-keuneulheuëh ka maté meugulé dalam mideuën prang... teutapi njoë djinoë ka djeuët keu saboh peumandangan keuneuleuëh nibak drama Atjèh, njang djinoë, sigotreuk, handjeuët lé gob peumeuén deungon tjara njang laén nibak njan."Tjit ka rab ban phôn that mulai prang, Tengku-Tengku di Tiro ka geudong dikeuë sibagoë peumimpin pahlawan raja lawan geutanjoë (Beulanda)--keu gobnjan dan keu ureuëng-ureuëng geuh, hana laén njang geupandang patôt, laén nibak meunang, atawa maté sjahid."Peukara meunang, ka deuh teutôp, hana mungkén geuteumeung, teutapi bah that pih meunan, gobnjan geumeudong peunoh lagèë pahlawan bansa; bah that pih meunan, djeuëb-djeuëb Teungku di Tiro han geuakui dan han geupeubeuna keumungkénan njang laén nibak maté.


*Meunankeuh, peumipin-peumimpin Atjèh njang mat tanggông djaweuëb bak peutheun keumeurdéhkaan nanggroë Atjèh njoë ka geupeuleumah bak seudjarah dônja, mangat ta deungo lé geutanjoë*"Wat het politieke gevolg van deze laatste overvalling zai zijn, is nog niet te overzien, maar het vervangen van Tgk. Tjhi' Majét, door de Atjehers genoemd de "Tanglông Nanggroë" (Lantaarn des lands), door iemand van gelijken invloed is niet mogelijk.... Het staat er heel kort en heel zakelijk: de laatst overgeblevene der Tiro Teungkoes sneuvelt...en het is toch het slotstuk van een Atjeh-drama, dat nu eenmaal niet anders kon worden gespeeld."Vrijwel vanaf den aanvang van het verzet hebben de Tiro Teungkoes daarbij de rol der groote en vooraanstaande onverzoenlijken gespeeld--voor hen en de hunnen bestond geen andere mogelijkheid dan de overwinning of het einde als sjahid."Die overwinning was uitgesloten, onbereikbaar—desondanks hielden zij vol als heiden, desondanks erkende een Tiro Tengkoe geen andere mogeiijkheid dan de dood.


" H.J.Schmidt en M. H. du Croo, Marechaussee in Atjeh, ôn 156, 169.keuturônan Atjèh dimasa ukeuë: bahwa keumeurdéhkaan bansa dan nanggroë Atjèh njoë na leubèh that peunténg nibak njawong sidroë-droë ureuëng Atjèh, bôh ureuëng ulèë, bôh ureuëng iku, bôh teuntra, bôh panglima. Ka geu peuleumah, maté bak peutheun hak bansa dan nanggroë droëteuh njoë na leubèh djroh nibak hudép sibagoë bansa lamiët dimijub djadjahan bansa laén njang teuka. Ka geupeuleumah deungon buët Ié éndatu geutanjoë , gobnjan sabé keumaih deungon peudeuëng bak djaroë, rintjông bak keuiëng, beudé bak bahô, bak geumaté peulindông tanoh mulia pusaka njoë nibak rhôt dalam djaroë musôh laknat njang teuka.


Njoë keuh jum meurdéhka dan hareuga mulia, njang éndatu geutanjoë sabé keumaih that bak geubajeuë. Njoë keuh pat asai-usui, neuduëk keubeusaran dan keumuliaan bansa dan nanggroë Atjèh njoë dalam dônja. Bansa njang han tém peubuët lagèë njoë keumeung djeuët keu bansa lamiët gob dalam dônja.Watèë Iheuëh sjahid Teungku Tjhik Majét di Tiro, kawôm peurdjuangan Atjèh geupiléh Teungku Tjhik Maat di Tiro, aneuk Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Amin njang reubah di Kuta Aneuk Galông bak thôn 1896, sibagoë Panglima Prang dan Wali nanggroë Atjèh. Bah that pih droë neuh njan mantong muda that, barô umu 16 thôn, teutapi ureuëng muda Atjèh njoë, njang lahé dan rajek dalam mideuën prang, ka geupeusampôrna buët njang ka geupeutjaja Ié bansa bak gobnjan deungon keumuliaan njang hana tara.Bak watèë Beulanda djideungo Teungku Tjhik Majét ka neugantoë Ié Teungku Tjhik Maat, dan prang mantong tjit hana habéh lagèë phôn djisangka Ié Beulanda, buët njang phôn that djipeulaku hana laén nibak djiôsaha teuma supaja droë neuh njan geutem pijôh muprang dan djak meunjeurah bak Beulanda.


Djimeudjandji lé Beulanda, meunjo Teungku Tjhik Maat geutém meunjeurah akan djipeutimang gobnjan deungon mulia that. Djipiké Ié Beulanda, aneuk muda lagèë Teungku Tjhik Maat teuntèë leubèh mudah bak djipadan meunjeurah nibak ureuëng njang leubèh tuha. Meunantjit, djipeugah Ié Beulanda, buët djih mita damè deungon Teungku Tjhik Maat njan, laén nibak keureuna keupeunténgan politék pih na keureuna rasa keumanusiaan, sabab, lagèë kheun djih:"Darah famili Tiro ka Ie that rhô; kri ureuëng njan bandum maté dalam mideuën prang nakeuh deungon hana meu'aih sagai, hingga Schmidt (komandan Beulanda) djikeumeung tji peuseulamat njawong aneuk muda njang barô 16 thôn umu njan.


Buët njoë kon mudah: sipheuët njang kreuëh that nibak ureuëng njan hana tinggai teumpat bak djeuët meudamè. Meunjo ta kirém surat keu ureuëng njan ta peugah ta djamin keu seulamatan gobnjan, dan ta meudjandji tapeutimang gobnjan deungon mulia lagèë neuduëk gobnjan dalam masjarakat Atjèh, asai geutèm meunjeurah, geutanjoë hantom na ta teurimong djeunaweuëb, dan keuneuleuëh surat-surat njan ta teumeung bak manjèt ureuëng njan. Bah that peuë hasé,handjeuët han ta tjuba tji sigo treuk; geutanjoë pih tahe teuh dan keunong peungarôh ulèh keubeuranian dan keukuatan njang hana bataih nibak musôh njoë, dan ta piké peuë njang ka teudjadi ka séb, leubèh nibak séb.


"*Teutapi Teungku Tjhik Maat geutulak bandum ôsaha Beulanda njan, dan geubri djeunaweuëb, gobnjan deungon teuntra Atjèh njang mantong tinggai akan geusambông prang peutheun dèëlat Nanggroë Atjèh trôk'an meunang atawa trôk'an maté; gobnjan han geutém peulén tanglông njang geutot lé éndatu njang ka hu ban saboh dônja; lagèë bansa Atjèh keuturônan njang ka u likôt, ka geupiléh maté supaja bansa dan Nanggroë Atjèh njoë teutap hudép mulia, keuturônan njang muda njoë pih hana kureuëng beuhô, hana kureuëng seutia, pih sabé keumaih bak bri djawong bak peutheun agama dan bansa.Teungku Tjhik Maat di Tiro reubah dalam mideuën prang di Aluë Bhôt dalam glé Tangsé, bak uroë 9 buleuën Désèmbèr, 1911.


Wali Nanggroë Atjèh njang keuneuleuëh njoë, ureuëng muda balia njang barô umu 16 thôn njan, njang hana meu geuteumeung hudép lom, geu tukri maté lagèë pahlawan bansa. Bak watèë panglima teuntra Beulanda dalam prang njan ( H. J.Schrnidt) djikalon manjèt muda balia njan ka meugulé, deungon darahgeuh rhô peubasah bumoë Atjèh njoë, djipeugah peuë njang djikalon, lagèë njoë:"Teungku Maat na sidroë aneuk muda njang putèh that kulèt dan djroh that rupa muda bangsawan; gobnjan geu ngui siluweue hitam meukasap pirak, badjeë kôt hitam deungon aneuk badjèë meuh. Tangkulôk sutra mirah mantong bak ulèë geuh, dan djaroë uneun gobnjan mantong meureugam meuseutôi, bah that pih gobnjan ka maté.


*"Er was zóóveel bloed der Tiro-familie vergoten, de methodiek der uitroeiing deaser mannen was zoo onbarmhartig, dat Schmidt nog eene laatste poging wilde wagen ona althans dezen zestienjarigen jongen te redden. Dit was niet zoo gemakkelijk; de onverzoenlijkheid dezer mannen was als een harnas dat geen enkele poging tot een compromis doorliet. En als men hun een brief zond waarin lijfsbehoud en eene behandeling overeenkomstig hun stand werd toegezegd, kreeg men geen antwoord en vond later den brief op hun lijk. Toch moest nog eene poging worden gewaagd; de moed en onbegrensde standvastigheid dezer vijanden imponeerden ook ons, en men dacht dat het nu genoeg was, meer dan genoeg.


" H. C. Zentgraaf, Atjèh. ôn 41."Sineuk aneuk beudé keunong bak djantông geuh, beusôt, dan deungon aneuk mata geuh njang ka hantjô njan sang-sang gobnjan mantong geupandang langèt njang meurdéhka, diateuëh.... Schmidt dan teuntra djih bandum teudong, seungab, djipandang deungon peunoh rasa horeumat bak manjèt 'aneuk tu' njang beutôi that njan, sidroë ureuëng muda Atjèh njang beuna that niët, lagèë Ie that ureuëng muda Atjèh njang laén, njang keu gobnjan bandum pih meuwoë horeumat dan pudjoë nibak pihak njang meunang prang.


"*Njoëkeuh peumandangan njang keuneuleuëh, keudjadian njang deungon rasmi peutamat; prang Atjèh deungon Beulanda. njoëkeuh saboh tragedi keubangsaan Atjèh njang bak watèë njan tjit na saboh drama keubeusaran bansa njang hana tara. njoëkeuh saboh keudjadian njang peunoh isjarah, peunoh simbolisme, njang bri saboh chulasah njang sampôrna that dan tjeudaih that keu geutanjoë bansa Atjèh dalam prang deungon Beulanda, saboh chulasah njang dalam siklép mata peusapat peuë njang djroh nibak geutanjoë Atjèh sibagoë saboh bansa bak sidroë ureuëng muda balia, njang djroh that rupa, njang dong dikeuë sibagoë simbôl bansa, bak watèë nanggroë dalam baja.


Bak aneuk muda Atjèh njoë ka meusapat bandum anasir keubeusaran, keubeuranian, keuseutiaan, tanggông djaweuëb dan peungorbanan, hana lom meugeuteumeung hudép, teutapi geutukri maté deungon keumuliaan njang sép keu geutanjoë bandum ban saboh bansa. Njoëkeuh saboh simbôl heroisme njang hana teuladan dalam seudjarah dônja. Njoëkeuh rupa karakter Atjèh njang sampôrna!


*"Tengku Maat was een vrij blanke jonge man met voornaam uiterlijk; hij droëg een zwarte, met zilver bestikte broek en een zwart baadje met gouden knoopen. Om zijn hoofd hing de roodzijden hoofddoek, en zijn rechterhand hield nog in den dood de revolver vast. Eén der schoten had hem in het hart getroffen, en het was alsof zijn gebroken oogen nog staarden naar de vrije lucht, boven hem .... Schmidt en zijn mannen stonden een moment in eerbiedig zwijgen bij het lijk van den 'zoon van zijn vader', een rechtgeaard Atjehers zooals de vele anderen, naar wie ook de hulde en bewondering der overwinnaars uitgaan.


" H. C. Zentgraaf, Atjèh, ôn 43.Dua peungarang Beulanda kadjiéksaksi peukara njoë watèë djituléh:"Riwajat maté Teungku Tjhik di Tiro njang keuneuleuëh geubri bahan keu saboh roman seudjarah; meunankeuh, ka teutanom dalam riwajat Prang Atjèh bahan-bahan keu saboh seudjarah keupahlawanan njang leupah that raja, dan leupah that kha, dan dumnan kaja hingga hana laén lagèë njan njang bri keubanggan dan keubeusaran keu saboh-saboh bansa."*Beulanda djikira akhé prang Atjèh deungon djih bak uroë maté Teungku Tjhik Maat di Tiro, bah that pih njang ubé buët prang ubit-bit sabé teudjadi disinoë-sidéh hantom putôh ban saboh nanggroë Atjèh trôk'an Beulanda wèh.


Teutapi deungon sjahid Teungku Tjhik Maat di Tiro maka Peumeurintah Atjèh njang meuatô, njang geupeudong keudroë lé bansa Atjèh deungon hana djampu djaroë bansa luwa dan njang ka meu sambông-sambông meuribèë thôn dalam seudjarah geutanjoë, ka putôih siat, dan mulai bak watèë njan maka dèëlat Nanggroë dan bansa geutanjoë meuwoë teuma bak djaroë geutanjoë bansa Atjèh bandum trôk'an saboh masa u keuë bak watèë geutanjoë ta peudong keulai saboh Peumeurintah Nanggroë Atjèh njang meurdéhka dan meudèëlat lagèë sabé djameunkon.Djadi trôk'an habéh peurlawanan Atjèh njang meu atô, Peumeurintah Atjèh njang sah hantom geu tèkèn surat meunjeurah keu Beulanda .


Deungon njoë, meunurôt hukôm internasional, dèëlat Nanggroë Atjèh teutap bak geutanjoë, hantom meu minah bak Beulanda. Dan bak watèë Beulanda ta lét teuma nibak bumoë Atjèh njoë, nanggroë Atjèh meuwoë keulai bak neuduëk asai lagèë jôh goh lom prang, bak status quo ante bellum, njakni bak neuduëk meurdéhka dan meudèëlat njang handjeuët gob ganggu-gugat. Beulanda hana djipeutalo geutanjoë bak hukôm, dan hana djipeutalô geutanjoë dalam mideuën prang keubit-keubit trôk'an akhé.


Beulanda pih djimeungaku peukara njoë. Lagèë kheun Zentgraaf, "bansa Atjèh njan han sagai geutém meunjeurah bandum dimijub peundjadjahan geutanjoë. " ("Dat het Atjehsche volk zich nimmer geheel zai neerleggen bij onze overheersching. ") Bak watèë Beulanda djibri dèëlat keu Djawa ateuëh tanoh djadjahandjih "Hindia Beulanda "—njang djinoe ka djibalék nan djeuët keu "Pulo Hindu" atawa "Pulo Kléng' (njoë keuh makna laphai "Indonesia")--djih hana hak menurôt*"Het verhaal van de ondergang van de laatste Tirelama's biedt de stof voor een roman, en zo ligt in de historie van de Atjehkrijg he naateriaal voor een epos, groots, geweldig, en zó omvangrijk als enig ander dat de trots en de glorie van een volk uitmaakt. " W. A. Goudoever dan H. C. Zentgraaf, Sumatraantjes, ôn 167.hukôm internasional bak djidjak peuduëk Nanggroë Atjèh dan geutanjoë bansa Atjèh dimijub bansa Djawa.


Njang ubé buët Beulanda pih hana djimeukeusud lagèë njan. Meunjo geutanjoë ka rhôt u mijub Djawa watèë Beulanda minah, njan keureuna salah droëteuh, sabab geutanjoë hana ta teupeuë peutheun hak droëteuh, hana muphôm lé keu keupeunténgan keubansaan droëteuh, dan hana ta teupeuë lé hak seudjarah droëteuh.Peureulèë tjit ta meuteuoh disinoë, asai meuka ta teupeuë neuduëk peukara djih, peuë njang djipeulaku lé Beulanda deungon djaroë-gaki djih di nanggroë Atjèh bak watèë Peumeurintah Atjèh njang sah han geutém tèkèn surat meunjeurah bri dèëlat Nanggroë Atjèh njoë keu Beulanda. Djipiké lé Beulanda, surat Atjèh meunjeurah njan peureulèë that keu djih mangat djeuët djipeuleumah bak dônja.


Teutapi, peumimpin-peumimpin Atjèh njang mat nanggroë njoë lawét prang deungon Beulanda, mulai nibak Sultan Mahmud Sjah, Gunantoë Radja Tuanku Hasjém, trôk'an Almudabbir Almalik Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Saman, Teungku Tjhik di Tiro Muhammad Amin, Teungku Tjhik di Tiro Mahjeddin, dan Teungku Tjhik di Tiro Maat, bandum han sagai geutém tèkèn surat Atjèh meunjeurah njan. Tipèë Beulanda njankeuh djibitjah dan djibagi-bagi Keuradjaan Atjèh njoë "-ateuëh keureutaih"-djeuët keu 116 boh "keuradjaan" njang luwaih djih na meupadum-padum boh gampông mantong, dan paling rajek meupadum-padum boh mukim dan peugawè Keuradjaan Atjèh njang mat gampông dan mukim-mukim njan (ulèëbalang dan keudjruën) djipeugot lé Beulanda djeuët keu "radja-radja" nibak "keuradjaan" pura-pura njan, meunjo geutém tèkèn surat meunjeurah bak Beulanda. Surat meunjeurah njoë njankeuh njang djipeunan lé Beulanda "Korte Verklaring", disinan ulèëbalang atawa keudjruën njan geumeungaku meunjeurah bak Beulanda, geumeungaku Beulanda meudèëlat ateuëh nanggroë Atjèh, geumeungaku bandira Beulanda sibagoë bandéra njang sah di Nanggroë Atjèh, geumeungaku han, bri beunantu keu Teuntra Atjèh njang mantong teungoh muprang peutheun dèëlat nanggroë Atjèh nibak seurangan Beulanda, dan geumeungaku musôh Beulanda sibagoë musôh ulèëbalang njan tjit.


Njoë bandum, lagèë ka geutanjoë teupeuë, nakeuh hai-hai njang djilakèë lé Beulanda bak Radja Atjèh baroë djéh, jôb phôn prang, njang atra njan bandum ka geutulak meutahmeutah lé Radja dan Peumeurintah Keuradjaan Atjèh njang sah, Djadi keureuna hana mungkén djiteumeung saboh surat meunjeurah njang sah, Beulanda djipeugot keudroëdjih 116 boh surat meujeurah njang hana sah, sang-sang njang muprang deungon djih lawét njoë njang ka muploh thôn njan kon na saboh bansa Atjèh dan saboh Keuradjaan Atjèh, teutapi 116 boh ''bangsa" dan 116 boh "keuradjaan" lagèë Ilot, Lala, Leupuëng, Peureumeuë, Djulôk Tjut, dan laén lagèë njan.Teutapi peuë neuduek "Korte Verklaring" njan dalam hukôm? Dalam hukôm nasional nanggroë Atjèh, buët tékén surat meunjeurah dèëlat nanggroë dan bansa Atjèh njoë njang mantong teungoh peutheun droë, keu musôh njan, hana laén nibak saboh buët chianat keu bansa dan keu nanggroë Atjèh njoë. Dalam hukôm nasional bandum bansa-bansa meuadab, buët njang geupeulaku lé ulèëbalang dan keudjruën njan, hukôm djih poh maté.


Meunantjit hukôm nanggroë Beulanda keudroë djih. Lagèë geutanjoë teupeuë, dalam Prang dônja keu II, nanggroë Beulanda djitjok lé Djeureuman. Politèk peutjré-bré ureuëng nanggroë, lagèë njang djipeulaku Ié Beulanda ateuëh geutanjoë Atjèh pih djipeulaku Ié Djeureuman ateuëh bansa Beulanda. Peugawè-peugawè keuradjaan Beulanda njang tém tjôm djaroë Djeureuman djipeugot keu "Peumeurintah Beulanda" lé Djeureuman. Teutapi bak watèë Djeureuman keuneuleuëh talô, ureuëng Beulanda njang djeuët keu djaroëgaki Djeureuman bandum djihukôm maté lé bansa Beulanda.


Meunantjit di nanggroë-nanggroë laén.Dalam hukôm internasional, "Korte Verklaring" njan pih buët njang hana sah, sabab njang na hak tèkèn meunjeurah ateuëh nan nanggroë Atjèh dan ateuëh nan bansa Atjèh hana laén nibak Peumeurintah Keuradjaan Atjèh njang sah, njang djiakui ban saboh dônja, njang bak watèë njan mantong teungoh muprang deungon Beulanda. Lom pih, hantom dalam riwajat, nanggroë dan bangsa Atjèh meunjeurah keu musôh, "Keuradjaan" pura-pura njang dipeugot Ié Beulanda dalam wilajah Keuradjaan Atjèh, lagèë Ilot, Bluëk, Lageuën, Leupuëng, dan laén lagèë njan njang trôk'an 116 boh njan, njoë bandum kon "keuradjaan" dalam istilah hukôm internasional.


"Keuradjaan" pura-pura njoë bandum nakeuh peuneugot Beulanda dan meugantung bak peuë njang meuheut djih. "Korte Verklaring" atawa surat meunjeurah njang djitèkèn Ié djaroe-gaki Beulanda njan hana arti dalam hukôm internasional, sabab "keuradjaan" njang tèkèn njan kon keuradjaan njang meurdéhka dan meudèëlat sah ateuëh bumoë Atjèh njoë. Keuradjaan njang meurdéhka dan meudèëlat ateuëh nanggroë Atjèh tjit saboh sagai, njankeuh Keuradjaan Atjèh njang ka meuribèë thôn gob thèë na ban saboh dônja.