Thursday, December 11, 2008

Sejarah Pengkhianatan Panglima Tibang


3:42 PM |

Ia datang sebagai pesulap yang mampu menarik simpati kalangan istana kerajaan Aceh. Karena kepiawannya ia dipercayakah sebagai syahbandar. Guna menghadapi serangan Belanda, ia diutus untuk melakukan perjalanan diplomasi ke luar negeri. Tapi di luar negeri ia balik menyerang Aceh bersama Belanda. Seumur masa ia dicap pengkhianat.

Ramasamy, seorang pemuda dari India selatan, suatu ketika singgah di pelabuhan kerajaan Aceh. Ia hanya seorang perantau yang punya keahlian sebagai pesulap. Berbekal keahliannya itu pula, ia mampu menarik simpati masyarakat Aceh di pelabuhan. Keahliannya main sulap akhirnya sampai juga ke istana kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebuah perhelatan ia pun diundang untuk menunjukkan kebolehannya itu.

Pemuda pengembara itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Melalui pertunjukan sulapnya, ia berhasil masuk istana. Kesempatan itu pula yang digunakannya untuk menarik simpati raja Aceh. Hal itu pun dituainya, setelah ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad. Sebagai mualaf, biaya hidupnya ditanggung kerajaan.




Ia pun semakin mantap menancapkan pengaruhnya di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan.

Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk oleh Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau, agar pihak Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Hal itu merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh berperang dengan Belanda.

Namun informasi itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda pun mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada Pertengahan Februari 1873 pun mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia pun membentuk Dewan Delapan, yang terdiri dari empat orang bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang. Dewan Delapan tersebut bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya pada Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh, Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Tindak lanjut dari maklumat perang tersebut, pada Senin 6 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, dengan kekuatan enam kapal perang, dua kapal angkutan laut, lima barkas, delapan kapal peronda, satu kapal komado, dan lima kapal layar, melakukan pendaratan di Pante Ceureumen, yang disambut dengan perlawanan rakyat Aceh. Maka perang pun berkecamuk.

Tak tanggung-tanggung, dalam agresi pertama itu, Belanda mengerahkan 168 perwira, 3.198 pasukan, 31 ekor perwira berkuda, 149 pasukan berkuda, 1.000 orang pekerja paksa, 50 orang mandor, 220 orang wanita, 300 orang pelayan. Perang dengan Belanda pun terus berlanjut.

Namun di tengah usaha Aceh melawan agresi Belanda tersebut, pada tahun 1879, Panglima Tibang yang dipercayakan sultan untuk menggalang diplomasi di luar negeri, berbalik arah. Ia meninggalkan rekan seperjuangannya, bergabung dengan Belanda untuk kemudian menyerang Aceh. Kepercayaan yang diberikan raja Aceh kepadanya pun dibalas dengan pengkhianatan. Tak pelak, nama Panglima Tibang sampai kini tertoreh di sanubari rakyat Aceh sebagai pengkhianat yang tak terampuni.

Pelabelan nama Panglima Tibang sebagai pengkhianat nomor wahid pun terus berlanjut sampai kini. Dalam sejarah konflik Aceh, tak terkecuali ditubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) nama Panglima Tibang selalu diberikan kepada orang-orang yang berkhianat atau menyerah kepada pemerintah. Sebuah label yang nilai kebenciannya melebihi cap cuak, sipil yang menjadi informan terhadap tentara. Kisah pengkhianatan Panglima Tibang itu, kini menjadi catatan kelam sejarah Aceh. ***

Referensi:

1. Prof. Dr Aboe Bakar Atjeh, dalam “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah” Panitia PKA II, Agustus 1972

2. M Nur El Ibrahimi dalam “Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Aceh”



Share
You Might Also Like :


3 comments:

Baka Kelana said...

Assalamu,alaikom...berarti koen awak tanyoe panglima tibang nyan awak india

Anonymous said...

asalamualaikum wbth.

1. panglima tibang datang ke aceh di usia 10thn.

2.yang membawa beliau ke aceh adalah sultan alaidin ibrahim mansursyah.

3. sultan alaidin mansyursyah ini adalah pemangku kepada sultan sulaiman iskandarsyah yang masih kecil kerana ayahanda telah wafat.bernama sultan alidin mohamad daudsyah I.

4. terjadi sengketa sultan sulaiman iskandarsyah dan sultan ibrahim mansursyah kerana tidak kembalikan tahta kepadanya sesuai janjinya.

5. perkahwinan anak sultan ibrahim manyursyah yang bernama pocut sari banun dengan sultan alaidin sulaiman iskandarsyah untuk mendamaikan pertikaian.

6. wafatnya sultan sulaiman iskandarsyah dalam usia muda,tahta kembali kepada sultan alaidin ibrahim mansursyah.meninggalkan janda dan anak dalam usia masih bayi bernama sultan alaidin mahmudsyah kelak besar.

7.perkahwinan panglima tibang dengan ibundanya sultan mahmudsyah (pocut sari banun,menjadi ayahanda tiri / disini panglima tibang menyempurnakan misinya, inginkan kekuasaan.

8.pada saat ini para pembesar sudah terpengaruh dengan panglima tibang dengan posisi sebagai
- anak angkat sultan alaidin ibrahim mansursyah.
- ayah tiri sultan mahmudsyah.
-suami kepada pocut sari banun
-pocut sari banun adalah anak sultan alaidin ibrahim mansursyah yang saat ini sedang memerintah.
- saat ini panglima tibang belum berkuasa penuh namun mentyebarkan pengaruhnya di kalangan para pembesar aceh.

9.wafatnya sultan alaidin ibrahim mansursyah, posisi kesultanan kosong kerana mahmudsyah masih kecil, tuanku hashim banta muda mengambil alih sementara waktu.

10.mahmudsyah diangkat menjadi sultan di usia 14tahun.

11. diangkat panglima tibang sebagai syah bandar.

12. sengketa panglima tibang dan habib abdulrahman

13. diangkat panglima tibang sebagi wakil sultan mahmudsyah ke singapor saat ini aceh dalam rangka mencari dukungan untuk persiapan dengan pihak belanda kira 6 bulan sebelum perang.perang 26 april 1873.sultan di perkirakan usia 17 yahun.disini pengkhianatan besar panglima tibang.

14. wafatnya sultan mahmudsyah terkena kolera dan wafat di pagar ayer, ini di ucapkan sendiri oleh panglima tibang yang saat itu sambil menggendong sultan mohamad daudsyah di usia 4-5tahun sambil berlari dan berteriak-teriak pengganti sultan. dengan alasan, beliau sedang dikejar belanda, disampaikan ke para pembesar ketika itu yang namanya terkenal berpihak dengan belanda.

15. dengan dasar perkataaan ini pihak belanda mencatat di buku sejarah.

persoalannya benarkah sultan mahmudsyah wafat pada waktu itu, sedangkan aceh tau panglima tibang adalah pengkhianat?

kenapa mengangkat sultan mohamad daud syah yang berumur 4-5 tahun, sedang pada waktu itu banyak lagi sepupunya sultan mohamad daudsyah yang masih ada.kerana ayahanda sultan mohamad daudsyah ini bukan sultan melainkan tuanku zainal abidin, yang mempunyai beberapa saudara dan dia juga bukan yang tertua antara saudaranya.

kenapa acara perkahwinan aceh mengikut adat istiadat sultan aceh, semua pakaian mengunakan kebesaran sultan aceh namun kenapa mengunakan meuketup sebagai mahkota.

dimana mahkota sultan aceh sebenar?
dimana rencong sultan aceh sebenar2nya yang di warisi oleh turun temurun seorang sultan aceh?
dimana cincin sultan aceh?
dimana kuburan asli yang sebenarnya dan nisanya sultan mahmudsyah?
bagaimana dengan warkah sultan mahmudsyah yang ditingalkan saat sebelum wafat.

apa yang terjadi sesunguhnya kerajaan aceh sehingga hancur dan benarkah sultan mahmudsyah wafat kerkena kolera seperti yang di catat oleh belanda dengan sumber dari panglima tibang?

terima kasih.
wasalam

Tgk Dikeumeuneng said...

Pengkhiatan panglima tibang