Tipsone(Free Tips and Trick)

Paypal For Business

Free Premium Themes

Thursday, December 11, 2008

Teungku Chik Awe Geutah


2:16 PM |

[Oleh: Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam pada Tazkiya Institute dan Ketua Yayasan Waqaf Nurul Islam, Lhokseumawe]

[Rumah Teungku Awe Geutah]


Aceh banyak menyimpan tokoh-tokoh besar sejarah. Sekalipun kita cuma pandai mengulang-ulang nama Iskandar Muda dan beberapa tokoh sejarah lainnya—dengan kisah mereka yang terpenggal-penggal dan belum tentu benar, malah seringnya justeru merusak citra tokoh tersebut—tapi pernyataan tadi setidaknya tetap menjadi suatu kenyataan logis. Paling tidak, sebuah kesatuan politik Islami telah tumbuh di kawasan utara Sumatera ini sejak paruh kedua abad ke-8 Hijriah atau ke-13 Masehi, sebagaimana diakui oleh para sejarawan. Bersama munculnya kesatuan politik Islami, sebgai kekuatan baru yang tidak dapat diremehkan di kepulauan nusantara kala itu, tumbuh berkembang pula sebuah peradaban istimewa yang sempat beberapa kali mencapai tingkat puncak kegemilangannya. Dan sebuah peradaban terbentuk tentu hasil keterlibatan ramai tokoh-tokoh yang genius dan cemerlang dalam berbagai lapangan kehidupan.






Rumah Teungku Awe Geutah


Tidak kurang dari 900 tahun silam Aceh telah menjalani kehidupan amat dinamis. Gerak peristiwa dalam skala besar tak pernah reda, sangat lincah, terkadang gemulai indah, terkadang ganas bergemuruh. Dinamika Aceh dalam sejarahnya tak ubah seperti tari-tariannya; seudati, rapa’i, saman. Semua itu diperankan oleh tokoh-tokoh berjiwa besar dengan kecemerlangan yang lebih besar.


Pertanyaannya, sekarang, di manakah mereka dalam ingatan generasi Aceh hari ini?! Atau mungkin kita justeru harus mempertanyakan dari awal: apa perlunya mereka dalam ingatan?! Sayang, jika pola hidup realistis pragmatis (baca: pola mengikuti tuntutan kenyataan hidup yang terbatas pada hal-hal yang memberi keuntungan praktis saja) yang menguasai masyarakat Aceh, hari ini, tanpa disadari semakin mengukuhkan proses pelenyapan sejarah yang sebenarnya banyak mengandung mutiara hikmah dan pelajaran. Lebih sakit lagi, jika pelenyapan sejarah itu justeru dilakukan oleh para pewaris negeri ini sendiri, disadari maupun tidak.


Ketika sejarah dianggap seonggok zaman lalu yang tidak begitu berarti dewasa ini, ketika itu pula kita menjadi bangsa tanpa sejarah, tanpa akar yang kokoh di kedalaman waktu sehingga tak ubahnya kumpulan-kumpulan manusia yang baru saja keluar dari gua-gua persembunyian sejak ribuan tahun silam.


Kita seolah tidak mewarisi apa pun dari generasi-generasi terdahulu; tidak ruhani, pikiran, perasaan, budaya, bahasa, dan tidak pula negeri ini. Lantas bagaimana kita bisa tahu bahwa kita ada sebagai sebuah bangsa. Kalau ini dituangkan dalam acuan Doute Methodique-nya Descartes: dapatkah kita tahu bahwa kita ada sebagai sebuah bangsa bila tanpa ruhani, pikiran, perasaan dan lainnya yang kita wariskan dari generasi-generasi terdahulu, tentu jawabnya, tidak. Sebab, jika manusia diketahui ada karena ia berpikir (Cogito ergo sum), maka hemat saya, sebuah bangsa diyakini ada adalah karena ia memiliki sejarah; menyadari serta menghayatinya.


Tanpa sejarah, sebuah bangsa hanya tinggal nama, dan sejatinya ia tak lebih dari sebuah perhumaan baru di mana siapa saja boleh memiliki, merebut atau malah merampasnya dengan keji.Tipisnya kesadaran terhadap masa lalu dengan pelbagai pelajarannya, baik dalam bentuk anasir-anasir kekuatan maupun kelemahan yang ditampilkannya, terutama di kalangan generasi muda hari ini, menimbulkan suatu kegelisahan terhadap masa depan bangsa di hari mendatang—di samping negeri ini memang masih sangat menggelisahkan bagi orang kecil seperti saya.


Kegelisahan itulah salah satu sebab yang mendorong saya untuk berkunjung ke situs sejarah di Awe Geutah, kira-kira 8 km dari kota Matang Geulumpang Dua, Kabupaten Bireuen, ke arah tenggara, yaitu situs rumah adat Aceh, Bale Khalut dan makam Teungku Chik di Awe Geutah.Dari empat kali kunjungan ke Awe Geutah yang disambut baik oleh keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah seperti layaknya penyambutan setiap tetamu yang datang berkunjung dari berbagai daerah dan negara, dua kali di antaranya paling berarti bagi saya. Dalam dua kali kunjungan itu saya benar-benar menemukan “harta karun” tak ternilai peninggalan Teungku Chik Awe Geutah yang masih terus dirawat dan dijaga oleh anak cucu keturunannya, sekalipun perhatian pemerintah atau pihak lainnya untuk hal ini dapat dikatakan relatif minim.


Harta karun itu berupa lembaran-lembaran lusuh dari naskah-naskah salinan tangan (manuskrip), yang diyakini adalah salinan Teungku Chik Awe Geutah sendiri dan putranya Muhammad Zain.Dari keluarga turunan Teungku Chik Awe Geutah diperoleh keterangan bahwa nama asli Teungku Chik (adaptasi dari kata Tuan-ku Syaikh) adalah ‘Abd Ar-Rahim (Abdurrahim).


Keterangan yang sama juga diperoleh dari beberapa catatan pada lembaran-lembaran tua tersebut, tertulis dalam aksara dan bahasa Arab, Abd Ar-Rahim (Abdurrahim) Al-Asyi. Cuma saja, mungkin karena pemeriksaan yang sepintas lalu dan tergesa-gesa, saya tidak berhasil menemukan catatan yang menyebutkan asal turunan dari Teungku Chik ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi. Keluarga keturunannya yang ditemui dalam kunjungan saya itu juga tidak dapat memberikan informasi mengenai hal ini.


Boleh jadi nama ayahnya adalah Asy-Syaikh ‘Abd As-Salam, tapi ini juga belum begitu kuat. Namun yang jelas, setelah memperhatikan catatan-catatan yang tidak menyebutkan di ujung namanya selain Al-Asyi, saya menduga bahwa ia bukan keturunan bangsa Arab maupun lainnya, tapi adalah keturunan Aceh asli dan dilahirkan di Kuta Raja atau al-Asyi al-Mahrusah (sebutan terakhir tercantum dalam “Siraj al-Zhulam fi Ma’rifah al-Sa’d wa al-Nahs fi al-Ayyam” dalam kumpulan “Taj al-Mulk” yang menandakan Bandar Aceh dahulunya dikitari semacam benteng penjagaan dan memiliki gerbang-gerbang atau bab tertentu).


Saya memperkirakan, di Bandar Aceh-lah, Teungku Chik dibesarkan dan mengecap pendidikan awal ilmu-ilmu bahasa Arab dan Islam sebelum kemudian ia meneruskan studinya ke Jazirah Arab, terutama dua kota Al Haram (Al-Haramain), Makkah dan Madinah, kemungkinan besar juga ke Yaman, atau tepatnya di Zabid.Mengenai perantauannya ke Jazirah Arab, ini dapat diketahui dari catatan-catatan sanad Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin karya Imam An-Nawawi, sanad hadits pengalihan kiblat (hadits musalsal), serta silsilah ratib Haddad yang terdapat di antara lembaran-lembaran manuskrip tersebut.


Dalam catatan itu disebutkan bahwa Al-Azkar dan Riyadh al-Shalihin, begitu pula sanad hadits tadi, ia terima dari gurunya, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji (Mizjaj: kabilah di Zabid). Terakhir adalah seorang ulama terkenal di Zabid. Sumber-sumber yang dikutip Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” menyebutkan bahwa ‘Ali Al-Mizjaji ini adalah salah seorang guru termuka dari Murthadha Az-Zabidi (wafat 1205 H), pengarang Taj Al-’Urus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin. (Ayzumardi Azra, 2005).


Tapi dalam hal ini perlu juga diberi catatan, sebab sekalipun saya tidak syak lagi tentang perantauan Teungku Chik ke Jazirah Arab baik untuk menuntut ilmu maupun menunaikan ibadah haji, namun saya menaruh curiga, Teungku Chik berguru kepada ‘Ali Al-Mizjaji bukan di Zabid, tapi justeru di Aceh. Alasan kecurigaan ini adalah karena sumber-sumber Azyumardi Azra yang kebanyakannya dari para sejarawan Timur Tengah, tidak menyebutkan tempat dan tahun wafat ‘Ali Al-Mizjaji. Ini boleh jadi lantaran mereka kehilangan jejak ‘Ali Al-Mizjaji setelah yang terakhir ini berhijrah dan membuka halqah pengajarannya di Aceh. Namun demikian, untuk membuktikan benar atau kelirukah kecurigaan ini perlu kepada penyelidikan lebih lanjut.Hal lain yang belum diketemukan keterangan pasti baik lisan maupun tulisan adalah menyangkut tahun lahir dan wafat Teungku Chik.


Hanya saja, dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa Teungku Chik hidup sezaman dengan Murthadha Az-Zabidiy (1145 H-1205 H) lantaran sama-sama berguru kepada ‘Ali Al-Mizjaji, boleh jadi Az-Zabidiy dalam masa waktu yang lebih awal, tapi jelasnya berhampiran. Dan keduanya, Az-Zabidiy dan Teungku Chik Al-Asyi sama-sama menyimpan kekaguman serta kedekatan emosional dengan guru mereka bersama, ‘Ali bin Az-Zain Al-Mizjaji. Jika Az-Zabidiy kemudian telah memantapkan kedudukannya sebagai ulama terkemuka dunia Islam penghujung paro kedua abad ke-12 Hijriah di Mesir, tempat di mana ia wafat, maka Teungku Chik Al-Asyi adalah ulama sepantarannya di Aceh dan kepulauan nusantara dalam kurun waktu yang sama. Hal ini didukung bukti yang akan kita ungkapkan kemudian.


Dari catatan ijazah (pemberian sanad periwayatan) Al-Azkar dan Riyadh ash-Shalihin oleh gurunya, ‘Ali Al-Mizjaji, dapat diketahui pula bahwa Teungku Chik adalah salah seorang murid terdekat dan tersayang tuan gurunya. Selain ijazah dari gurunya itu diperuntukkan khusus untuknya, bukan ijazah untuk umum, yang dalam hal ini tentu punya nilai lebih, ungkapan dalam ijazah berteks Arab tersebut juga mengesankan kasih sayang sang guru: “[Tahmid dan shalawat]. Wa ba’d, maka inilah sanad Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin bagi Al-Imam Syaraf Ad-Din An-Nawawi Rahimahullah.


Faqir kepada Allah, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji, semoga Allah memanjangkan umurnya, berkata: sesungguhnya aku telah me-ijazah-kan ananda yang shalih, ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi sebagaimana telah di-ijazah-kan kepadaku keduanya (Al-Azkar dan Riyadh Ash-Shalihin) Ayahanda, wali yang sempurna lagi menyempurnakan, dan Al-’Arif bi-lLah, Az-Zain bin Muhammad Al-Mizjaji…”Perasaan serupa serta penghormatan yang dalam juga ditunjukkan Teungku Chik kepada gurunya seperti terlihat jelas dalam catatan ijazah sanad hadits pengalihan arah kiblat. “[Tahmid dan Shalawat]. Wa ba’d, maka sungguh telah di-ijazah-kan kepadaku oleh guruku (syaikhiy) lagi panutanku (quduwwatiy), seorang yang utama dan sempurna, ‘Ali ibn Az-Zain Al-Mizjaji [hadits yang diterimanya] dari Asy-Syaikh Mulla Ibrahim Al-Kurdiy Al-Kuraniy…”Kesungguhan dan ketulusannya dalam menuntut ilmu begitu pula adab dan penghormatannya kepada ahl al-’ilmi (ulama), yang juga berarti pengakuan terhadap penting dan mulianya ilmu pengetahuan, semua itu telah mengantarkan Teungku Chik pada kedudukan terpandang dalam dunia ilmu pengetahuan. Ia diakui layak menyandang predikat al-’Allamah (orang yang sangat alim) oleh sesama ulama yang hidup di zamannya.


Tapi, sekalipun demikian ia adalah seorang yang sangat rendah hati dan berakhlak tinggi sebagaimana layaknya seorang ulama. Semua ini tampak jelas dari sebuah salinan tangan dari Asy-Syaikh ‘Abdullah ibn ‘Abd Al-Hadi Asy-Syazili Al-Yamani, seorang ulama asal Yaman dan ber-thariqat Asy-Syaziliyyah. Dalam salinan berteks Arab itu diungkapkan: “[Tahmid dan shalawat]. Wa ba’d, maka telah meminta kepadaku Saudaraku yang shalih lagi sangat alim (Al-’Allamah) al-Hajj (Haji) ‘Abd Ar-Rahim Al-Asyi agar ku-ijazah-kan kepadanya ratib Al-Habib Haddad…” Di sini, pengakuan teman sejawat akan kealiman Teungku Chik dengan menyebutnya Al-’Allamah (sangat alim) ternyata tidak menghalangi Teungku Chik untuk mengakui kelebihan yang dimiliki oleh rekan sezamannya.


Permohonan Teungku Chik kepada Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Yamani untuk di-ijazah-kan ratib Haddad kepadanya merupakan sikap tawadhu’ atau rendah hati seorang ulama sejati. Dan inilah adab para ulama dengan sesama mereka.Setelah perjalanan menuntut ilmu yang panjang, akhirnya Teungku Chik pun mengabdikan ilmunya di Awe Geutah, Peusangan. Madrasah serta zawiyah yang dibangunnya terkenal sebagai pusat pengajaran Al-Qur’an, hadits, fiqh dan tasauf. Dari beberapa manuskrip yang masih tersimpan di pustaka Teungku Chik, yang barangkali juga merupakan sisa-sisa dari jumlah yang sesungguhnya, tampak keluasan dan keragaman ilmu pengetahuan yang dikembangkan.


Di antara manuskrip terpenting ialah “Fath Al-Qadir bi Ikhtishar Muta’alliqat Nusuk Al-Ajir” karangan Al-’Alim Al-’Allamah Muhammad ibn Sulayman Al-Kurdiy (wafat 1194 H).Selain itu, Teungku Chik juga meninggalkan keturunan yang mengikuti garis kealimannya. Sebuah catatan berteks Arab di lapik salah satu manuskrip mengungkapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami seorang anak laki-laki, shalawat beserta salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para shahabat beliau, para pemilik nikmat (uli al-ayad). Maka tatkala tahun hijrah Nabi saw. 1724, dan hari keempat permulaan bulan Sya’ban, telah lahir seorang bayi laki-laki, Dawud ibn ‘Abd Al-Muhsin ibn Muhammad Zain ibn ‘Abd Ar-Rahim Awi Geutah, semoga Allah meridhai mereka dan menempatkan mereka dalam syurga atas apa yang telah mereka perbuat.”Menurut sumber keluarga keturunan Teungku Chik, nama-nama yang tersebut dalam catatan di atas adalah para alim ulama yang mengikuti jejak Teungku Chik dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan syari’at.


Sumber tersebut juga menyatakan bahwa Muhammad Zain, putera Teungku Chik, adalah seorang sarjana Islam yang pernah lama menuntut ilmu pengetahuan di Jazirah Arab. Dan tampaknya kepada Muhammad Zain inilah ditujukan sebuah surat, yang sepertinya didiktekan oleh Teungku Chik kepada seseorang dan terlihat belum selesai secara utuh. Dalam surat tersebut, Teungku Chik mensinyalir kerinduannya kepada ananda yang jauh di negeri Arab sebab sudah lama tak menerima kabar darinya.“Perasaan seorang ayah menanti-nanti berlalunya hari dan waktu sampai dengan ia kembali ke negeri walaupun hanya untuk sesaat,” ungkap Teungku Chik dalam surat tersebut.


Ada getar-getar keharuan saat saya merenungi isi surat pendek yang belum benar siap itu. Sepertinya, Teungku Chik tidak ingin dikultuskan menjadi sosok di atas manusia. Ia juga dapat merasa pedih dan bahagia, rindu dan senang seperti manusia lain. Dan bukankah dalam kemanusiawiannya manusia, sebuah perjuangan hidup menjadi begitu berarti?!Saya menemukan wajah hakiki Serambi Mekkah dalam watak perjalanan hidup Teungku Chik di Awe Geutah. Rupanya, seperti hidupnya-lah julukan “Serambi Mekkah” itu harus dimaknakan. Inilah identitas. Dan saya yakin kita tahu, dan orang lain pun tahu, bahwa itu adalah identitas kita. Tapi bersediakah generasi Aceh hari ini dan masa depan untuk mempertahankannya di tengah-tengah badai globalisasi, yang juga terkadang berpasangan dengan “sentralisasi” budaya dengan dominasi budaya satu-satu etnis, yang sedang menerpa kuat? Doa dan kerja keras untuk itu, adalah “utang” yang mesti kita bayar kepada generasi dahulu yang telah berbuat banyak untuk tanah ini. [HA]


Share
You Might Also Like :


0 comments: